BMKG Sebut Bakunase dan Oepoi Cetak Hari tanpa Hujan Terpanjang di NTT

  • 29 Agt 2026 16:10 WIB
  •  Kupang
Poin Utama
  • BMKG
  • Geofisika
  • BMKG NTT
  • BMKG Kupang
  • Ryan Sudrajat

RRI.CO.ID, Kupang - BMKG menyebut wilayah Bakunase dan Oepoi di Kota Kupang mencatat hari tanpa hujan terpanjang di NTT dengan durasi mencapai 97 hari. Kondisi tersebut terjadi di tengah fenomena El Nino yang saat ini disebut berada pada kategori sangat kuat.

“Yang paling ekstrem lagi 97 hari tanpa hujan terdapat di wilayah Kota Kupang yakni Bakunase dan Oepoi. Itu data kami 97 hari tanpa hujan di wilayah tersebut,” kata Pengamat Meteorologi dan Geofisika Stasiun Klimatologi Kelas I Kupang, Ryan Sudrajat di Pro1 RRI Kupang, Jumat 28 Agustus 2026.

Berdasarkan data dasarian kedua Agustus, umumnya hari tanpa hujan di wilayah NTT berada pada kategori menengah hingga sangat panjang. Artinya, sejumlah wilayah telah mengalami kondisi tanpa hujan hampir dua hingga tiga minggu, sementara beberapa daerah lainnya sudah lebih dari tiga bulan.

“Jika dari data dasarian dua Agustus, umumnya hari tanpa hujan berada pada kategori menengah hingga sangat panjang. Artinya sudah hampir dua minggu atau tiga minggu tidak ada hujan di wilayah NTT,” ujar Ryan.

Kategori hari tanpa hujan sangat panjang atau lebih dari 90 hari tercatat di sejumlah wilayah, seperti Waepana, Detusoko, dan Waigete. Kondisi paling ekstrem terjadi di Kota Kupang, khususnya Bakunase dan Oepoi, yang tercatat telah 97 hari tanpa hujan.

“Kita sudah tahu semua bahwa 2026 itu kondisi kita fenomena El Nino. Apalagi kondisi kita saat ini BMKG menyatakan El Nino sangat kuat,” kata Ryan.

Menurut Ryan, kondisi tanpa hujan di Bakunase dan Oepoi masih berpotensi berlanjut karena pengaruh El Nino yang sangat kuat perlu diwaspadai. Kondisi kemarau panjang tersebut dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, meski kemarau tidak secara otomatis menyebabkan kebakaran.

“Ini dapat berpengaruh pada kebakaran hutan dan lahan. Namun perlu kami tekankan bahwa puncak musim kemarau saat ini tidak secara otomatis menyebabkan kebakaran hutan,” jelas Ryan.

Rendahnya curah hujan dan panjangnya periode tanpa hujan membuat vegetasi semakin mengering sehingga kelembapan lingkungan menurun. Kondisi tersebut, ditambah angin yang dapat mempercepat penyebaran api, membuat potensi kebakaran hutan dan lahan perlu menjadi perhatian bersama, terutama dengan aktivitas manusia sebagai salah satu pemicu munculnya sumber api. (ST)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....