KPU NTT Dorong Anak Muda Jadi Kekuatan Demokrasi, Bukan Sekadar Pemilih

  • 21 Agt 2026 16:19 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mendorong generasi muda untuk tidak hanya hadir di tempat pemungutan suara (TPS), tetapi terlibat aktif dalam seluruh tahapan pemilu dan kehidupan demokrasi. Upaya tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) NTT dalam penguatan pendidikan demokrasi dan kepemiluan bagi kaum muda.

Ketua KPU NTT, Jemris Fointuna, mengatakan pembangunan demokrasi yang sehat membutuhkan keterlibatan warga negara, khususnya generasi muda yang memiliki jumlah besar dan sangat aktif menggunakan teknologi digital. Menurutnya, pemuda harus memahami hak dan kewajibannya sebagai warga negara serta mampu mengambil bagian secara kritis dalam kehidupan demokrasi.

“Demokrasi tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan pemilu dan pemilihan, tetapi juga bagaimana masyarakat memahami hak dan kewajibannya sebagai warga negara serta mengambil bagian secara aktif dalam kehidupan demokrasi,” ujar Jemris dalam dialog Kupang Menyapa di RRI Kupang, Kamis, 13 Agustus 2026.

Jemris menjelaskan, berdasarkan hasil pemutakhiran data pemilih berkelanjutan semester pertama 2026, jumlah pemilih di NTT bertambah sekitar 221.540 orang. Ia menyebut komposisi pemilih muda sangat besar, terutama dari kelompok milenial dan generasi Z, sementara generasi Alpha yang akan memasuki usia pemilih pada Pemilu 2029 juga diperkirakan mencapai hampir 500 ribu orang.

“Kalau misalkan pemilih punya literasi tentang background calon, tentang apa ideologi partai yang akan dipilih nanti, dia tidak bingung saat datang ke TPS,” katanya. Jemris menegaskan, pemilih muda harus memiliki literasi yang cukup mengenai visi, misi, program dan rekam jejak peserta pemilu, serta aktif mengikuti kampanye untuk mendengar gagasan sekaligus menyampaikan aspirasi.

Menurut Jemris, pemilih cerdas bukanlah mereka yang menentukan pilihan berdasarkan kedekatan suku, agama, ras, kelompok maupun iming-iming materi. Pemilih cerdas, kata dia, harus bertanggung jawab terhadap pilihannya, aktif mengikuti tahapan pemilu, memastikan namanya terdaftar dalam daftar pemilih, serta ikut menjaga suasana demokrasi tetap aman dan kondusif. Ia juga mengingatkan pentingnya menolak politik uang, hoaks dan ujaran kebencian serta menghargai perbedaan pilihan.

“Partisipasi orang muda bukan hanya datang saat pemungutan suara, datang ke TPS saja, tetapi partisipasi orang muda harus terlibat langsung dalam setiap tahapan pemilu maupun pilkada,” ucap Jemris.

Ia menambahkan, orang muda juga harus tetap kritis terhadap penyelenggaraan pemilu karena KPU terbuka terhadap kritik sebagai bagian dari upaya perbaikan. “Jangan lupa orang muda jangan sampai melupakan jati dirinya sebagai orang-orang yang kritis,” ujarnya, menegaskan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....