GAMKI NTT Dorong Orang Muda Jadi Kekuatan Demokrasi yang Cerdas dan Kritis

  • 21 Agt 2026 16:15 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Membangun demokrasi yang sehat di Nusa Tenggara Timur tidak cukup hanya dengan memastikan pemilu berlangsung secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Demokrasi juga membutuhkan warga negara, khususnya generasi muda, yang mampu berpikir kritis, memilah informasi, menghargai perbedaan, serta berani terlibat aktif dalam mengawal kehidupan publik.

Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam Dialog Kupang Menyapa Pro 1 RRI Kupang, Kamis, 13 Agustus 2026 yang membahas tema Membangun Demokrasi Orang Muda yang Cerdas, Kritis, dan Inklusif di Nusa Tenggara Timur.” Ketua DPD GAMKI NTT, Winston Neil Rondo, mengatakan generasi muda tidak boleh hanya dipandang sebagai pemilih pemula yang dibutuhkan ketika momentum pemilu tiba, tetapi harus dipersiapkan menjadi warga negara dan calon pemimpin yang mampu menentukan arah masa depan NTT.

Menurut Winston, tantangan demokrasi saat ini bukan kekurangan informasi, melainkan rendahnya kemampuan masyarakat dalam memilah dan memverifikasi informasi. Anak muda, kata dia, sudah sangat familiar dengan telepon pintar dan media sosial, tetapi belum tentu memiliki kemampuan menggunakan informasi tersebut untuk mengambil keputusan politik secara tepat. Karena itu, pendidikan demokrasi harus mendorong anak muda menjadi warga negara yang kritis, bukan sekadar pemilih yang datang ke TPS.

Winston menegaskan, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan GAMKI NTT membangun kerja sama dengan KPU Provinsi NTT melalui nota kesepahaman. Kerja sama itu, menurutnya, bukan garis akhir, melainkan garis awal untuk memperkuat pendidikan demokrasi. “Kualitas demokrasi adalah tanggung jawab kita bersama,” ujarnya, seraya menyebut gereja, organisasi kepemudaan, perguruan tinggi dan orang muda memiliki tanggung jawab moral untuk mengambil bagian.

Ia menjelaskan, GAMKI NTT juga menggagas Sekolah Demokrasi Pemuda Gereja sebagai ruang pendidikan kewargaan yang bersifat nonpartisan. Program tersebut tidak diarahkan untuk memenangkan kandidat atau membawa politik praktis ke dalam gereja, tetapi membekali anak muda dengan kemampuan memahami demokrasi, membaca kebijakan publik, menguji informasi, menolak politik uang, menghargai perbedaan dan menggunakan media sosial secara bertanggung jawab. Pesertanya juga terbuka bagi pemuda lintas komunitas dan lintas iman, termasuk mahasiswa, pemilih pemula, organisasi kepemudaan, perempuan muda, penyandang disabilitas dan pemuda di wilayah terpencil.

Winston menilai pendidikan demokrasi harus dilakukan jauh sebelum tahapan pemilu dimulai karena membangun kesadaran politik tidak bisa dilakukan secara instan. Ia mengibaratkan gerakan tersebut sebagai “maraton demokrasi” yang membutuhkan napas panjang, persiapan dan semangat pantang mundur. Ia juga mengingatkan generasi muda agar tidak menentukan pilihan hanya karena ikut-ikutan. Ia menyarankan anak muda menerapkan 3C, yakni cek calon, cek program, dan cek rekam jejak sebelum menentukan pilihan.

Lebih lanjut, Winston mengajak generasi muda NTT untuk tidak menjadikan media sosial sebagai satu-satunya sumber informasi politik. Setiap informasi yang diterima, termasuk di grup keluarga, harus diperiksa sumber, waktu dan kebenarannya sebelum dibagikan. Ia menekankan bahwa pemilih cerdas bukanlah pemilih yang memilih calon tertentu, melainkan pemilih yang mampu menjelaskan kepada dirinya sendiri mengapa memilih calon tersebut.

“Jangan persiapkan anak muda hanya untuk menjadi pemilih pada pemilu berikutnya. Persiapkan mereka menjadi warga negara dan pemimpin yang menentukan masa depan NTT,” ujarnya, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....