Sebanyak 22 Kecamatan Kabupaten Kupang Curah Hujannya di Bawah 10 Milimeter

  • 13 Agt 2026 14:53 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Sebanyak 22 kecamatan di Kabupaten Kupang tercatat mengalami defisit hujan dengan curah hujan di bawah 10 milimeter pada dasarian pertama Agustus 2026. Kondisi tersebut menunjukkan hampir seluruh wilayah Kabupaten Kupang mulai terdampak kekeringan pada musim kemarau tahun ini.

Ketua Forum Penanggulangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Kupang, Elfrid Veisel Saneh, mengatakan hanya dua kecamatan yang masih menerima curah hujan di atas 10 milimeter. Kedua wilayah tersebut berada di Kecamatan Amfoang Utara dan Amfoang Timur.

“Berdasarkan data BMKG dalam dasarian pertama Agustus 2026, ada dua kecamatan di Amfoang Utara dan Amfoang Timur yang masih mendapat hujan di atas 10 milimeter,” kata Elfried dalam wawancara Kupang Pagi Ini Pro 1 RRI Kupang, Kamis, 13 Agustus 2026.

Menurut Elfrid, kondisi ini menyebabkan penurunan debit air hampir merata di wilayah Kabupaten Kupang, terutama daerah berketinggian lebih dari 50 meter di atas permukaan laut. Ia menyebut sebagian besar wilayah Kabupaten Kupang berada pada kategori ketinggian tersebut sehingga sangat rentan mengalami kekeringan.

“Dua puluh dua kecamatan lainnya curah hujannya di bawah 10 milimeter dan dampaknya mulai terlihat pada penurunan debit air,” ujarnya.

FPRB menilai dampak kekeringan saat ini belum terasa sepenuhnya karena masyarakat masih memanfaatkan sisa cadangan air musim tanam pertama. Di sejumlah wilayah, petani masih bertahan dengan air embung dan aliran sungai untuk melanjutkan musim tanam kedua.

Elfrid menjelaskan daerah dataran rendah masih memiliki akses terhadap sumber air permukaan sehingga aktivitas pertanian skala kecil tetap berlangsung. Namun, ia mengingatkan kondisi tersebut tidak dapat bertahan lama apabila kemarau berkepanjangan terus terjadi.

Ketersediaan air baku untuk kebutuhan rumah tangga juga mulai menjadi perhatian serius. Sebagian besar masyarakat Kabupaten Kupang masih bergantung pada sumur dangkal dan jaringan perpipaan dengan kapasitas terbatas.

FPRB membedakan kondisi kekeringan menjadi kekeringan meteorologis dan kekeringan pertanian agar penanganannya lebih tepat sasaran. Menurut Elfrid, kedua jenis kekeringan tersebut kini mulai muncul bersamaan di sejumlah wilayah Kabupaten Kupang.

“Kita membedakan kekeringan meteorologis dan kekeringan pertanian supaya langkah penanganannya lebih tepat,” katanya.

Sebagai langkah antisipasi, FPRB mendorong pemerintah daerah memperkuat distribusi air bersih, sistem peringatan dini, dan edukasi kepada masyarakat. Selain itu, petani diminta menyesuaikan pola tanam dengan komoditas yang lebih tahan terhadap kekeringan.

Elfrid juga menekankan pentingnya pengelolaan air jangka panjang melalui gerakan tanam dan panen air serta konservasi daerah tangkapan air. Upaya tersebut dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap dropping air bersih pada musim kemarau berikutnya.

“Kita harus fokus pada pengelolaan air dan edukasi masyarakat agar risiko kekeringan dapat ditekan sejak dini,” kata Elfrid, menegaskan. (DB)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....