Hidroponik Ketha Farm Jadi Penggerak Ekonomi Lokal di Kota Kupang
- 02 Jul 2026 06:57 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Keterbatasan lahan dan tantangan iklim di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) kini bukan lagi menjadi penghalang bagi masyarakat untuk tetap produktif. Metode pertanian modern hidroponik terbukti mampu menjadi solusi ketahanan pangan sekaligus motor penggerak baru bagi pertumbuhan ekonomi lokal di Kota Kupang.
Hal tersebut ditegaskan oleh Pemilik Usaha Ketha Farm, Oktavia Nuriani Koebanu atau akrab disapa Mea, dalam program dialog Obrolan Akamsi Pro 4 RRI Kupang, Selasa, 30 Juni 2026. Ia mengungkapkan bahwa salah satu keunggulan utama dari budidaya hidroponik adalah efisiensi operasional dan sistem manajemen tanam yang presisi.
Berbeda dengan pertanian konvensional berbasis tanah, hidroponik memungkinkan petani mengatur rotasi tanam secara konsisten tanpa perlu jeda untuk pemulihan unsur hara tanah. "Melalui hidroponik, kita memulai dari penyebaran benih, masuk ke talang pembibitan, peremajaan, hingga pendewasaan secara bersambung. Hasilnya, setiap minggu kita bisa melakukan panen dan perputaran modalnya menjadi sangat cepat," ujarnya.
Selain efisiensi waktu, metode urban farming (pertanian perkotaan) ini dinilai sangat cocok dengan karakteristik wilayah NTT yang kerap menghadapi kendala keterbatasan air pada musim kemarau. Sistem sirkulasi air nutrisi pada instalasi hidroponik yang berputar terus-menerus terbukti jauh lebih hemat air dibandingkan penyiraman tanaman di lahan terbuka, selain itu perawatannya pun relatif mudah karena tidak memerlukan proses mencangkul atau membersihkan gulma (rumput liar).
Terkait prospek pasar, Mea menjelaskan bahwa kesadaran masyarakat Kota Kupang akan konsumsi pangan sehat tanpa pestisida terus meningkat, ditambah dengan tingginya permintaan dari para pelaku usaha kuliner kekinian. Saat ini, Ketha Farm yang berbasis di wilayah Sikuana dan Bakunase fokus memproduksi sayur selada premium guna memenuhi tingginya serapan pasar lokal.
Guna menjaga stabilitas harga dan pasokan di pasaran, Mea bersama komunitas pegiat hidroponik di Kupang seperti Anugerah Hidroponik dan Evolusi Hidroponik, menerapkan sistem kolaborasi saling mendukung. Jika salah satu kebun kekurangan stok untuk memenuhi permintaan konsumen, mereka akan saling memasok sayuran.
Ia mengajak generasi muda di NTT untuk mengubah pola pikir terhadap dunia pertanian. Pertanian modern seperti hidroponik tidak lagi identik dengan kerja kasar yang kotor, melainkan dapat dikelola secara bersih bahkan dari pekarangan rumah yang sempit.
"Kita tidak perlu menunggu modal ratusan juta atau harus menjadi tuan tanah dengan lahan berhektar-hektar. Manfaatkan ruang yang ada, mulai dari skala kecil seperti seratus atau dua ratus lubang tanam. Yang terpenting adalah kemauan untuk melangkah dan konsisten menjaga kualitas," ucapnya, mengakhiri. (JR)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....