Petani Bello Dilibatkan Langsung dalam Program Peningkatan Irigasi

  • 15 Jun 2026 11:54 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang – Petani yang tergabung dalam Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Oelneneno, Kelurahan Bello, Kota Kupang, mulai mempersiapkan pelaksanaan Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) melalui kegiatan sosialisasi masyarakat penerima manfaat dan musyawarah kelompok yang digelar, Minggu, 14 Juni 2026.

Kegiatan yang berlangsung di Kelurahan Bello itu merupakan bagian dari program Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Satuan Kerja Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air Nusa Tenggara II. Program tersebut bertujuan mendukung pengelolaan dan pemanfaatan jaringan irigasi guna meningkatkan produktivitas pertanian masyarakat.

Usulan pelaksanaan program berasal dari P3A Oelneneno pada tahun 2026. Melalui program ini, petani diharapkan memperoleh dukungan infrastruktur irigasi yang lebih baik sehingga ketersediaan air untuk lahan pertanian dapat terjamin, terutama pada musim kemarau.

Konsultan Program P3-TGAI, Jefry Ke Lele, menjelaskan bahwa program tersebut merupakan salah satu upaya pemerintah dalam memperkuat sektor pertanian melalui Pembangunan, Rehabilitasi dan Peningkatan Jaringan irigasi tersier. Program yang telah berjalan sejak masa pemerintahan Presiden Joko Widodo itu kini dilanjutkan pada era Presiden Prabowo Subianto.

"Pertanian yang produktif harus ditopang oleh infrastruktur yang memadai. Karena itu pemerintah menghadirkan program ini untuk memperkuat jaringan irigasi yang menjadi penopang utama kegiatan pertanian masyarakat," kata Jefry.

Menurut dia, salah satu keunggulan P3-TGAI adalah keterlibatan langsung masyarakat petani dalam seluruh tahapan kegiatan, mulai dari tahapan Persiapan, Perencanaan, Pelaksanaan hingga Penyelesaian pekerjaan. Pendekatan tersebut dilakukan agar pembangunan benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan sekaligus meningkatkan rasa memiliki terhadap hasil pembangunan.

Ia mengakui, selama ini banyak Petani menilai masih ditemukan sejumlah proyek irigasi yang dinilai kurang efektif karena petani tidak dilibatkan dalam proses perencanaan. Akibatnya, bangunan yang dibuat terkadang tidak sesuai dengan kondisi dan kebutuhan sebenarnya.

"Ada pengalaman di mana saluran dibuat terlalu besar sementara debit air yang tersedia tidak sebanding. Karena itu dalam program ini seluruh keputusan teknis dibahas bersama anggota P3A agar sesuai kebutuhan di lapangan," ujarnya.

Jefry menjelaskan, seluruh aspek pembangunan, mulai dari penentuan lokasi pekerjaan, ukuran saluran, kebutuhan material hingga pelaksanaan konstruksi, akan diputuskan melalui musyawarah kelompok. Selain itu, pekerjaan fisik juga dilaksanakan secara swakelola oleh anggota P3A.

"Yang bekerja adalah bapak dan mama petani sendiri. Pengadaan bahan dilakukan secara terbuka oleh kelompok. Pendamping hanya membantu dari sisi teknis dan administrasi agar pelaksanaan program sesuai ketentuan," katanya.

Ketua P3A Oelneneno menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah terhadap kebutuhan petani di Kelurahan Bello. Menurutnya, keberadaan jaringan irigasi yang baik menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan usaha tani dan meningkatkan hasil produksi pertanian masyarakat.

Dalam sosialisasi tersebut, para petani juga mendapat penjelasan mengenai mekanisme pelaksanaan program, pengelolaan anggaran secara swakelola, serta pentingnya menjaga dan memelihara jaringan irigasi yang dibangun agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.

Melalui pendekatan partisipatif tersebut, pemerintah berharap pembangunan jaringan irigasi tersier di Kelurahan Bello dapat lebih tepat sasaran, meningkatkan efisiensi distribusi air, serta mendorong peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani.(As/goe)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....