Komunitas Bimatu Lentera, Cahaya Literasi dari Perbatasan Negeri

  • 14 Jun 2026 15:47 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Perubahan sosial di tengah masyarakat tidak harus selalu diawali dengan langkah besar. Kepedulian, semangat gotong royong, dan aksi nyata dari hal kecil dapat menjadi pemantik solusi bagi berbagai persoalan di lingkungan sekitar.

Menurut Ketua Komunitas Bimatu Lentera, Elisabeth Abi, dalam Obrolan Kita Indonesia Pro 4 RRI Kupang, Jumat 12 Juni 2026, komunitas yang berdiri sejak tahun 2023 ini lahir dari kekhawatiran pribadinya terhadap minimnya budaya literasi di beranda perbatasan negara, selain itu, tingginya kerentanan anak-anak terhadap pergaulan bebas yang memicu pernikahan usia dini menjadi alasan kuat ruang literasi ini harus hadir.

"Komunitas Bimatu Lentera ini adalah alat emansipasi budaya di daerah kami, dimana Bimatu berarti rumah, yang diambil dari nama kebesaran adat Kampung Sainoni, Kecamatan Bikomi Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara. Sedangkan Lentera adalah simbol kesederhanaan yang memberikan cahaya di tengah kegelapan," ujar Elisabeth Abi.

Hingga tahun 2026, tercatat sebanyak 84 anak dari yang semula hanya tiga desa menjadi empat desa telah bergabung, mulai dari usia prasekolah hingga tingkat SMP. Seluruh aktivitas ini digerakkan secara swadaya oleh enam orang relawan tanpa gaji, demi memajukan kualitas pendidikan anak-anak di perbatasan.

“Disini kami melakukan berbagai kegiatan belajar rutin yang dilaksanakan tiga kali seminggu, yaitu pada hari Senin untuk materi Calistung (baca, tulis, hitung), Rabu untuk kelas Bahasa Inggris, serta Sabtu untuk pendalaman Kitab Suci dan seni musik atau tari,” katanya.

Perjalanan menggerakkan perubahan sosial ini tidak selalu berjalan mulus. Menurut Elsa, pada awal berdirinya komunitas, mereka sempat mendapat penolakan dan teguran dari pemerintah desa karena anak-anak dinilai lebih memilih datang ke komunitas dibanding sekolah formal PAUD atau TK.

"Kami bahkan pernah dilabeli 'menjual anak' demi mendapatkan keuntungan tertentu dari pihak luar," ujarnya.

Namun, tantangan tersebut tidak menyurutkan konsistensi tim relawan, melainkan menjawab prasangka buruk tersebut dengan pembuktian hasil nyata. Anak-anak yang bergabung terbukti jauh lebih menonjol, berani, dan percaya diri di sekolah formal mereka.

Hingga saat ini, Komunitas Bimatu Lentera masih memanfaatkan teras depan rumah warga untuk proses belajar mengajar karena belum memiliki gedung sendiri. Tantangan infrastruktur seperti akses jalan yang rusak dan jaringan internet yang tidak stabil juga menjadi kendala harian.

Untuk memenuhi kebutuhan operasional dan ketersediaan buku, komunitas ini aktif membangun jejaring donasi, mulai dari komunitas literasi lokal, Perpustakaan Nasional RI, hingga mendapatkan dukungan dari donatur luar negeri, seperti Kanada. Menurutnya seluruh generasi muda, khususnya di wilayah perbatasan Indonesia, harus lebih aktif dan terlibat dalam kegiatan sosial, serta tidak tinggal diam dan hanya menjadi penonton di tengah berbagai isu nasional.

"Kita generasi muda memiliki jargon 'Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi?'. Jika kita hanya menjadi penonton, tidak akan pernah ada perubahan di lingkungan kita," ucapnya.

Ia mengajak anak muda untuk tidak terlalu larut dan pusing dengan hiruk-pikuk isu nasional di media sosial, melainkan mulai fokus bergerak membangun daerah dari hal-hal kecil. "Mari kita bangun mimpi anak-anak bangsa. Teruslah belajar lebih banyak dan memberi untuk bertumbuh," katanya, mengakhiri. (JR)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....