Seni dan Literasi: Cara Kreatif Mendi Project Lawan Kekerasan
- 12 Jun 2026 17:09 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Menghadapi tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Nusa Tenggara Timur (NTT), komunitas Mendi Project memilih jalan yang tidak biasa.
Sadar bahwa sosialisasi konvensional yang kaku sering kali membosankan dan sulit menyentuh kesadaran masyarakat, komunitas yang digawangi oleh anak-anak muda ini mengemas gerakan advokasi mereka melalui pendekatan seni, literasi, dan optimalisasi media digital.
Nama "Mendi" yang secara filosofis berarti "hamba" atau pelayan dalam bahasa Manggarai, diterjemahkan oleh komunitas ini menjadi sebuah gerakan pengabdian yang kreatif untuk masyarakat akar rumput.
Founder Mendi Project, Enjhy Juna kepada RRI, Kamis, 11 Junin2026 menjelaskan bahwa metode edukasi yang "ramah indra" jauh lebih efektif untuk membangun empati publik dibandingkan sekadar membeberkan angka dan pasal hukum.
Salah satu program kreatif unggulan yang menjadi ciri khas Mendi Project adalah pementasan seni monolog dan orasi teatrikal di ruang publik. Mereka sengaja menyasar tempat-tempat berkumpulnya anak muda di Kota Kupang untuk menggelar aksi ini.
Melalui naskah monolog yang disusun secara mendalam, para anggota Mendi Project mementaskan representasi dari trauma, ketakutan, dan jeritan batin para perempuan yang menjadi korban kekerasan. Pendekatan ini berhasil memantik emosi dan perhatian audiens tanpa harus mengeksploitasi atau membuka identitas asli korban di dunia nyata.
"Kami tidak menyampaikan secara gamblang bahwa si A atau si B menderita karena menjadi korban. Tetapi, kami mengemas esensi penderitaan dan ketidakadilan itu lewat gerakan seni monolog. Dengan cara ini, audiens yang menonton bisa merasakan langsung urgensi dari isu yang kami bawa," ujar Enjhy.
Kreativitas Mendi Project tidak berhenti di panggung kafe. Agar pesan dari pementasan monolog tersebut bisa diakses oleh masyarakat luas di luar Kota Kupang, mereka memanfaatkan kekuatan media digital.
Setiap pementasan monolog direkam secara sinematik dan diproduksi menjadi video klip pendek yang estetik namun sarat akan pesan edukasi. Konten-konten video ini kemudian diamplifikasi secara masif melalui akun resmi Mendi Project serta dibagikan secara kolektif oleh ratusan anggota dan simpatisannya di berbagai platform media sosial. Strategi ini terbukti ampuh menjangkau generasi muda (khususnya mahasiswa) yang menghabiskan banyak waktu di dunia maya.
| Baca juga: Desa Enoraen Dukung Pengembangan TWA Menipo |
Bergerak ke sisi pencegahan primer, Mendi Project juga memiliki program kreatif di bidang literasi anak yang berlokasi di Rumah Baya, Noelbaki, Kabupaten Kupang. Setiap hari Sabtu, para relawan Mendi Project turun langsung untuk mengajar anak-anak di pinggiran kota tersebut.
Program ini tidak hanya mengajarkan calistung (baca, tulis, hitung), tetapi juga menyisipkan pendidikan karakter berbasis anti-kekerasan melalui metode mendongeng, permainan edukatif, dan membaca buku bersama. Melalui program ini, anak-anak diajarkan sejak dini untuk mengenali batasan tubuh mereka, berani melapor jika mengalami perlakuan tidak menyenangkan, serta menghargai sesama tanpa memandang gender.
Melalui rentetan program kreatif ini, Enjhy Juna berharap Mendi Project bisa menjadi pelopor perubahan kultur di kalangan organisasi mahasiswa di NTT. Komunitas ini ingin menggeser tren organisasi kepemudaan yang selama ini terlalu fokus pada acara seremonial dan pesta, menjadi gerakan yang produktif dan solutif bagi kemanusiaan.
"Kami ingin menghadirkan iklim akademik dan kepekaan sosial di dalam komunitas ini. Dengan kreativitas, kita bisa membangun Nusa Tenggara Timur yang tidak hanya ramah bagi anak-anak dan perempuan, tetapi juga melahirkan generasi muda yang peduli dan berani bertindak nyata," kata Enjhy, mengakhiri. (TT)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....