Sektor Pertanian Sebagai Penggerak Ekonomi Daerah
- 10 Jun 2026 22:31 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID,Kupang-Sektor pertanian di era digital menghadapi tantangan regenerasi yang serius akibat minimnya minat generasi muda. Menurut Bian Tasilai, S.Pd., Gr., Guru Matematika SMK Negeri 1 Lobalain, Kabupaten Rote Ndao, dalam "Obrolan Akamsi" RRI Pro 4 Kupang, Selasa, 9 Juni 2026, tantangan terbesar dalam dunia pertanian saat ini adalah mengubah stigma di kalangan generasi muda yang menganggap bertani sebagai pekerjaan yang kotor dan tidak menjanjikan.
Menurutnya, pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang pasarnya tidak akan pernah mati. Ia membuktikan bahwa perpaduan teknologi dan pertanian mampu menghasilkan peluang ekonomi yang menjanjikan.
"Jangan takut kotor karena uang dan pusat keuangan itu sebenarnya ada di pertanian. Nilai tambahnya adalah kita menjadi bos untuk diri sendiri, kita yang mengatur waktu, dan kita yang menentukan harga," ujanya.
Sebagai guru matematika, Bian juga kerap mengimplementasikan ilmu hitung di dalam kelas untuk mengedukasi para siswa mengenai proyeksi keuntungan riil dari sektor pertanian. Hal ini dilakukan guna merangsang minat siswa agar melihat pertanian sebagai profesi yang modern dan rasional secara ekonomi.
Di tengah kesibukannya mengajar, Bian saat ini mengelola ribuan tanaman di lahan pertaniannya, meliputi 2.500 pohon lombok (cabai) serta tanaman hortikultura lain seperti terong dan brokoli. Guna menyiasati keterbatasan waktu, ia memanfaatkan teknologi digital secara otodidak untuk menerapkan sistem pertanian modern.
"Dulu saya menyiram manual dan itu menguras tenaga. Sekarang saya menggunakan sistem irigasi tetes yang dipelajari dari YouTube. Hanya butuh waktu 15 sampai 20 menit, ribuan tanaman sudah selesai diairi secara otomatis setelah saya pulang dari sekolah," jelasnya.
| Baca juga: NTT Dorong Integrasi Keanekaragaman Hayati |
Selain pemanfaatan teknologi pengairan, Bian juga berkomitmen penuh pada pemanfaatan pertanian organik demi menjaga kualitas kesehatan konsumen. Ia memanfaatkan kotoran ternak atau "emas hitam" serta limbah rumah tangga seperti air cucian beras sebagai kompos dan pupuk organik cair, dan dari hasil uji coba mandiri, produk pertanian organik terbukti memiliki daya tahan penyimpanan yang lebih lama dibandingkan dengan tanaman yang menggunakan pupuk kimia.
Terkait pengembangan sektor ini, Bian Tasilai berharap Pemerintah Daerah melalui instansi terkait dapat memberikan pendampingan yang berkelanjutan bagi para petani milenial. Menurutnya, pelatihan yang diberikan harus disertai dengan pengawasan berkala di lapangan serta kepastian jalur distribusi pasar agar hasil panen lokal dapat diserap secara optimal.
Ia juga mengajak masyarakat untuk mulai membangun ketahanan pangan keluarga dari lingkup terkecil, yaitu dengan memanfaatkan pekarangan rumah menggunakan media polybag. Melalui konsistensi dan niat yang kuat, sektor pertanian diyakini mampu menjadi pilar utama penggerak ekonomi daerah di tengah gempuran era digital. (JR)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....