Kupang Jadi Contoh Toleransi, FPK dan KKT Perkuat Harmoni Sosial
- 07 Jun 2026 18:09 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID,Kupang- Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya Kota Kupang, secara konsisten diakui sebagai salah satu wilayah dengan tingkat toleransi tertinggi di Indonesia. Di tengah derasnya arus digitalisasi dan dinamika sosial modern, menjaga keharmonisan masyarakat yang multikultural memerlukan strategi konkret yang melampaui sekadar teori.
Dalam Obrolan "Kita Indonesia" RRI Pro 4 Kupang, Jumat 5 Juni 2026, Sekretaris Umum Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) NTT, Onasianus J.E. Pella, ST, menegaskan bahwa FPK yang menaungi 38 etnis di NTT berfungsi sebagai rumah besar yang merangkul keberagaman warna budaya menjadi satu karakter kebangsaan yang utuh. Menurutnya, perbedaan bukanlah jarak, melainkan sebuah dinamika unik.
"Resep suatu masakan tidak akan menjadi enak kalau tidak ada beberapa bumbu yang berbeda. Begitu juga dengan multikulturalisme," ujarnya.
Ia memaparkan ada tiga strategi utama yang terus dijalankan FPK NTT untuk mendeteksi serta meredam potensi konflik sosial, yaitu dialog antarbudaya yang Intensif, dimana FPK mengedepankan komunikasi tatap muka secara rutin antar-ketua paguyuban etnis untuk mencairkan ketegangan sebelum meluas ke akar rumput. Selanjutnya adalah pemberdayaan tokoh masyarakat dan lembaga adat.
Onasianus menggarisbawahi bahwa dalam penyelesaian konflik komunal, pendekatan melalui tokoh adat/etnis sering kali jauh lebih efektif dan ditaati oleh masyarakat dibandingkan pendekatan formal lainnya. Yang terakhir adalah edukasi generasi muda (milenial & gen z) melalui roadshow ke sekolah-sekolah dan seminar kebangsaan berlandaskan Pancasila, FPK aktif membentengi generasi muda dari paparan informasi negatif.
Senada dengan FPK, Sekretaris Kerukunan Keluarga Toraja (KKT) NTT, Ir. Ishak S. Limbong, S.T., M.Eng.,Ph.D, menyampaikan bahwa NTT telah menjadi rumah yang aman dan hangat bagi berbagai suku perantau, termasuk warga Toraja. Ishak menekankan pentingnya warga perantauan untuk memegang teguh filosofi adaptasi budaya.
"Identitas budaya asli tidak boleh ditinggalkan, namun kita wajib menyesuaikan diri, menghormati, dan menyatu dengan budaya lokal tempat kita hidup dan bertumbuh," jelasnya.
KKT NTT sendiri aktif mengonsolidasikan warganya yang tersebar di berbagai wilayah NTT bukan untuk eksklusivitas, melainkan guna membangun aksi nyata kemanusiaan. Ketika bencana alam terjadi di NTT, paguyuban ini bergerak secara inklusif tanpa memandang latar belakang suku atau agama untuk meringankan beban sesama, selain itu, keterlibatan aktif anak muda Toraja dalam bergaul luas dengan masyarakat lokal NTT dinilai menjadi kunci utama runtuhnya sekat-sekat perbedaan.
Di era digital, media sosial diakui menjadi tantangan terbesar dalam menjaga kerukunan. Ishak Limbong mengingatkan masyarakat untuk ekstra waspada terhadap perkembangan teknologi, seperti Artificial Intelligence (AI) dan fenomena deepfake yang mampu memanipulasi wajah serta suara guna memicu perpecahan.
"Teknologi bisa menjadi pemersatu, tapi juga pemicu perpecahan yang dahsyat jika tidak digunakan secara bijak. Kita harus selalu menyaring informasi sebelum membagikannya," kata Ishak.
Menanggapi hal tersebut, Onasianus menambahkan bahwa strategi FPK menghadapi isu liar adalah dengan memperbanyak kontra-narasi berupa visualisasi perdamaian. Dibandingkan berteori, FPK lebih memilih mengekspos aksi nyata kebersamaan secara masif di media sosial, seperti dokumentasi upacara kemerdekaan bernuansa pakaian adat nusantara dan festival seni budaya gabungan.
Menurut keduanya, harmoni dalam perbedaan merupakan modal terbesar bangsa, bahkan memiliki nilai ekonomi yang tinggi melalui sektor pariwisata berbasis kebudayaan. Perbedaan etnis, bahasa, tarian, hingga kuliner khas nusantara yang hidup berdampingan di NTT adalah aset mahal yang wajib dilindungi dari kerusakan sosial.
"Keharmonisan tidak lahir begitu saja, melainkan dibangun dari komitmen, gotong royong, dialog terbuka, serta kerelaan hati untuk melihat perbedaan sebagai kekayaan bangsa. Di tengah perbedaan, persaudaraan harus selalu menjadi prioritas nomor satu," tutup keduanya, mengakhiri. (JR)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....