PPL Penfui Dorong Petani Tingkatkan Produksi Lahan Kering

  • 25 Mei 2026 08:52 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID,Kupang – Ditengah teriknya mentari, Maria Adunau Kamis, 21 Mei 2026, PPL wilayah binaan Penfui dari Kementerian Pertanian menyampaikan kondisi terkini pertanian di wilayah tersebut. Sejak Januari 2026, para penyuluh pertanian lapangan yang sebelumnya berada di bawah Dinas Pertanian Kota Kupang kini langsung berada di bawah Kementerian Pertanian.

Di wilayah binaannya, terdapat sebanyak 12 kelompok tani tanaman pangan yang berfokus pada komoditas jagung sebagai usaha utama masyarakat setempat. Selain itu, terdapat pula empat kelompok lain yang terdiri dari tiga kelompok peternakan dan satu Kelompok Wanita Tani yang memanfaatkan lahan pekarangan secara produktif.

Maria menjelaskan bahwa kondisi lahan di Penfui didominasi oleh lahan kering yang mengandalkan curah hujan sebagai sumber utama pengairan pertanian. Jenis tanaman yang dibudidayakan meliputi jagung, ubi-ubian, serta kacang-kacangan yang dinilai cocok dengan karakteristik lahan setempat.

Ia mengaku pada awal penugasannya sempat merasa ragu karena wilayah tersebut merupakan daerah tadah hujan yang memiliki keterbatasan sumber air. Namun setelah terjun langsung, Maria melihat antusiasme petani sangat tinggi bahkan di luar musim hujan mereka tetap berusaha mengolah lahan pertanian.

Dalam waktu dekat, para petani di wilayah Penfui juga direncanakan akan melakukan penanaman cabai dan berbagai jenis sayuran untuk meningkatkan diversifikasi pangan. Maria menyatakan rasa senangnya karena para petani tidak hanya bergantung pada satu komoditas tetapi terus berinovasi dalam usaha tani mereka.

Dalam pelaksanaan penyuluhan, Maria menggunakan pendekatan teknologi sederhana yang mudah dipahami dan telah familiar bagi para petani di lapangan. Ia juga aktif melakukan pendampingan terkait pengendalian hama, pemupukan yang tepat waktu, serta pengelolaan gulma guna memaksimalkan hasil produksi pertanian.

Meski demikian, tantangan utama yang dihadapi petani adalah keterbatasan air yang hanya bergantung pada satu sumber dari pipa air dari PT. Angkasa Pura yang diberikan secara gratis. Selain itu, keterbatasan alat dan mesin pertanian seperti traktor serta keterlambatan distribusi pupuk dari pengecer juga menjadi kendala serius dalam proses pengolahan lahan.

Maria menambahkan bahwa petani biasanya menyiasati keterlambatan pupuk dengan membeli stok lebih awal sebelum musim tanam dimulai agar kebutuhan tetap terpenuhi. Ia juga mengungkapkan bahwa mayoritas petani di wilayah tersebut sudah berusia lanjut, sehingga diperlukan perhatian khusus dalam mendukung keberlanjutan usaha tani mereka.

Sebagai harapan ke depan, Maria menginginkan agar semangat petani tetap terjaga dan mampu mengelola seluruh lahan yang tersedia hingga mencapai sepuluh hektar secara optimal. Ia juga berharap dukungan dari berbagai pihak terus mengalir sehingga usaha tani di Penfui dapat berkembang dan memberikan dampak ekonomi yang lebih baik bagi masyarakat. (AN)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....