Tugas Pewartaan Injil dan Persoalan Kehidupan Modern

  • 19 Mei 2026 11:09 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Tugas perutusan umat beriman di tengah berbagai tantangan kehidupan modern menjadi pokok refleksi dalam Program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Kupang, Kamis, 14 Mei 2026. Umat diajak untuk tetap menjadi pembawa kasih, pengharapan, dan damai Tuhan meski menghadapi tekanan ekonomi, persoalan sosial, hingga pengaruh negatif perkembangan zaman yang dapat melemahkan iman.

Marselinus Elias Seso, S.Fil., Penyuluh Agama Katolik Kanwil Kemenag Prov. NTT mengatakan, tugas perutusan tidak hanya menjadi tanggung jawab para imam atau pelayan gereja, tetapi merupakan panggilan setiap orang beriman. Menurutnya, umat dipanggil untuk menghadirkan nilai kasih dan kebenaran melalui perkataan, tindakan, serta cara hidup sehari-hari di tengah masyarakat.

Ia menjelaskan tantangan kehidupan saat ini semakin kompleks, mulai dari tekanan ekonomi, konflik keluarga, sikap individualistis, hingga media sosial yang dipenuhi ujaran kebencian, hoaks, dan saling menghina. Situasi tersebut, menurutnya, sering membuat banyak orang merasa jauh dari Tuhan, kehilangan semangat, bahkan merasa menghadapi persoalan hidup seorang diri.

Namun demikian, Marselinus menegaskan bahwa umat tidak boleh terjebak dalam ketakutan dan sikap pasif. Ia mengingatkan bahwa Tuhan tetap menyertai umat-Nya dalam setiap situasi kehidupan. Karena itu, orang beriman diminta mampu beradaptasi dengan tantangan zaman dan tetap menjaga kehidupan rohani melalui doa, pelayanan, serta keterlibatan aktif dalam komunitas gereja.

Menurutnya, tugas pewartaan Injil dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Orang tua, misalnya, dapat menjadi pewarta melalui perhatian dan doa bagi anak-anaknya, sementara kaum muda dapat menjadi teladan dengan menjaga kejujuran dan menjauhi budaya kebencian di media sosial. Sikap peduli terhadap sesama juga dinilai sebagai bentuk nyata menghadirkan kasih Tuhan di tengah masyarakat.

Marselinus juga menekankan pentingnya komunitas dalam membantu umat menghadapi tekanan hidup. Ia mengatakan keterlibatan dalam doa bersama, ekaristi, dan kegiatan sosial membuat umat menyadari bahwa mereka tidak sendiri. Kehadiran komunitas menjadi ruang untuk saling menguatkan, berbagi pengalaman, dan menemukan harapan ketika menghadapi situasi sulit.

Di akhir refleksinya, Marselinus mengajak umat untuk tetap menjadi saksi hidup yang membawa damai dan pengharapan di tengah dunia yang semakin kehilangan kepedulian. Ia berharap umat mampu menghadirkan kasih Tuhan melalui keteladanan hidup sehari-hari sehingga keberadaan orang beriman dapat menjadi kekuatan bagi keluarga, lingkungan, dan masyarakat luas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....