Kelompok Tani di Nasipanaf Sukses Sulap Lahan Tidur Menjadi Produktif

  • 06 Mei 2026 11:45 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Semangat pantang menyerah ditunjukkan oleh Kelompok Tani (Poktan) PENAF di wilayah Nasipanaf, Kelurahan Penfui, Kota Kupang. Di tengah keterbatasan lahan perkotaan, kelompok ini berhasil memanfaatkan lahan tidur milik Angkasa Pura seluas kurang lebih 10 hektar menjadi sumber penghidupan yang produktif. Keberhasilan ini ditandai dengan pelaksanaan panen raya jagung yang dilakukan pada Senin, 27 April 2026 lalu, sebagai buah dari kerja keras mereka sejak awal tahun.

Ketua Kelompok Tani PENAF, Kornelis Afoan, dalam Dialog Kupang Siang di Pro 1 RRI Kupang, Rabu, 30 April 2026 mengungkapkan bahwa lahan yang mereka kelola merupakan lahan milik Angkasa Pura yang sudah dibebaskan sejak tahun 1994. Dari total luasan yang ada, hanya sebagian kecil yang digunakan untuk fasilitas bandara, sehingga sisanya diizinkan untuk dikelola oleh masyarakat. Kornelis menyebutkan bahwa pihak Angkasa Pura sangat mendukung pemanfaatan lahan tersebut tanpa memungut biaya atau hasil sepeser pun dari para petani.

Kelompok Tani PENAF yang beranggotakan 15 orang ini memfokuskan penanaman pada komoditas jagung dan tanaman hortikultura. Berdasarkan hasil ubinan dari petugas penyuluh lapangan (PPL), produktivitas jagung pada panen raya kali ini mencapai 5,3 ton per hektar. Hasil ini dinilai cukup memuaskan meski proses penanaman sempat mengalami keterlambatan hingga pertengahan Januari akibat menunggu distribusi bibit dan pupuk subsidi dari dinas terkait.

Selain bertani, Kornelis menjelaskan bahwa anggota kelompoknya juga menerapkan sistem integrasi dengan peternakan. Jagung yang dipanen tidak hanya digunakan untuk konsumsi rumah tangga atau dijual, tetapi juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak babi, ayam, dan sapi. Pola ini membantu anggota kelompok dalam meningkatkan taraf ekonomi keluarga, di mana hasil tani dan ternak saling menopang kebutuhan satu sama lain.

Meski meraih sukses pada panen jagung, para petani di Nasipanaf masih menghadapi tantangan besar berupa ketersediaan air. Saat ini, mereka hanya mengandalkan satu kran air dari PDAM yang debitnya sangat terbatas untuk menyiram area lahan yang luas. Kondisi ini membuat para petani belum bisa mengoptimalkan seluruh lahan 10 hektar tersebut untuk tanaman sayur-mayur yang membutuhkan intensitas penyiraman tinggi di musim kemarau.

Menghadapi musim panas mendatang, Kelompok Tani PENAF berencana mengembangkan komoditas cabai yang memiliki nilai jual tinggi di pasaran. "Pasaran cabai sangat menjanjikan, bisa mencapai Rp80.000 hingga Rp100.000 per kilogram. Kami berencana menanam ribuan pohon cabai untuk mendukung kebutuhan pasar dan ekonomi anggota," ujar Kornelis optimis, sembari berharap adanya bantuan sarana pendukung dari pemerintah.

Di akhir dialog, Kornelis menaruh harapan besar kepada Pemerintah Kota Kupang dan Dinas Pertanian untuk memberikan bantuan berupa tandon air (fiber) atau terpal untuk menampung air. Fasilitas penampungan ini sangat krusial bagi mereka agar tetap bisa berproduksi di musim kemarau. Dengan dukungan sarana air yang memadai, kelompok tani di Nasipanaf yakin dapat terus berkontribusi dalam menjaga ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....