Optimalisasi Pemenuhan gizi Seimbang dan Kekuatan Pangan Lokal dalam Sajian MBG
- 02 Mei 2026 23:02 WIB
- Kupang
Poin Utama
- ahli gizi Satuan Pelayanan Pangan Bergizi (SPPG) Noelbaki, Katarina Leni, S.Gz, menjelaskan pentingnya pemenuhan gizi seimbang dalam setiap sajian.
- Katarina Leni menjelaskan setiap porsi MBG dihitung secara presisi menggunakan standar Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang disesuaikan dengan kelompok sasaran yang berbeda.
- Konsep piring MBG mengacu pada pedoman gizi seimbang dari Kementerian Kesehatan yang menekankan keberagaman pangan dan porsi yang sesuai kebutuhan.
- pemanfaatan pangan lokal juga menjadi strategi penting dalam optimalisasi gizi.
RRI.CO.ID, Kupang - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menunjukkan perannya dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak dan kelompok rentan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Melalui pendekatan gizi seimbang, sajian piring MBG tidak hanya berfokus pada rasa, tetapi juga pada komposisi nutrisi yang tepat dan terukur.
Dalam program siaran Spada Talking pada, Jumat, 1 Mei 2026 di RRI Pro 2 Kupang, ahli gizi Satuan Pelayanan Pangan Bergizi (SPPG) Noelbaki, Katarina Leni, S.Gz, menjelaskan pentingnya pemenuhan gizi seimbang dalam setiap sajian. Ia juga mengutarakan kunci utama kesuksesan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) terletak pada penggunaan bahan baku makanan segar yang dipasok langsung dari petani lokal.

Strategi ini memastikan bahwa setiap komoditas, mulai dari sayuran hijau hingga protein hewani, tetap terjaga kualitas gizinya saat diolah untuk memenuhi kebutuhan spesifik ribuan sasaran di wilayah Kabupaten Kupang. "Kami sangat konsen menggunakan pangan lokal seperti ubi jalar, labu kuning, hingga nasi kelor karena selain nilai gizinya asli dan tinggi, kami juga ingin menghidupkan ekonomi petani lokal," ujar Katarina Leni.
Penggunaan bahan segar ini menjadi pondasi penting dalam menyajikan makanan yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga fungsional bagi kesehatan jangka panjang anak-anak NTT. Terkait takaran, Katarina Leni menjelaskan setiap porsi MBG dihitung secara presisi menggunakan standar Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang disesuaikan dengan kelompok sasaran yang berbeda.
Penentuan standar porsi ini menjadi tugas krusial ahli gizi guna memastikan asupan kalori dan makronutrisi harian tepat sasaran, baik untuk pertumbuhan fisik maupun kecerdasan otak siswa di sekolah. Konsep piring MBG mengacu pada pedoman gizi seimbang dari Kementerian Kesehatan yang menekankan keberagaman pangan dan porsi yang sesuai kebutuhan.
Khusus untuk balita di Posyandu, SPPG Noelbaki menerapkan tekstur dan komposisi gizi yang lebih spesifik, seperti penyediaan bubur saring yang kaya akan vitamin dan mineral. Fokus utama pada kelompok ini adalah pengenalan protein hewani dan sayuran sejak dini melalui olahan kreatif agar anak-anak terbiasa dengan pola makan gizi seimbang tanpa rasa terpaksa.

"Untuk balita yang belum bisa makan nasi, kami layani dengan bubur saring yang ditambahkan parutan keju dan sayuran agar kebutuhan gizi mereka benar-benar terpenuhi," tambah Katarina Leni. Hal ini dilakukan untuk menjamin bahwa masa emas pertumbuhan anak tidak terlewatkan akibat kekurangan zat gizi mikro yang esensial.
Dalam praktiknya, variasi menu menjadi kunci agar makanan tetap menarik dan tidak membosankan, terutama bagi anak-anak. Katarina menuturkan, “Kami menyajikan berbagai warna dan jenis makanan, seperti nasi jagung, nasi kelor, hingga olahan ubi, supaya anak-anak tertarik dan tidak bosan dengan nasi putih saja.”
Selain itu, pemanfaatan pangan lokal juga menjadi strategi penting dalam optimalisasi gizi. Menurutnya, bahan seperti ubi jalar, labu, dan daun kelor tidak hanya kaya nutrisi, tetapi juga mendukung ekonomi lokal. “Kalau semua SPPG menggunakan pangan lokal, kita tidak hanya dapat gizinya, tapi juga membantu petani lokal,” ungkapnya.
Meski demikian, tantangan tetap ada, terutama dalam membentuk kebiasaan makan anak-anak yang cenderung memilih makanan tertentu. “Anak-anak cepat bosan dan punya preferensi, jadi kami harus kreatif mengolah bahan seperti tempe atau tahu agar lebih menarik,” katanya.

Di akhir perbincangan, Katarina menekankan penerapan gizi seimbang tidak hanya tanggung jawab program MBG, tetapi juga harus dimulai dari rumah. “Pesan saya, mari biasakan konsumsi pangan lokal dan terapkan gizi seimbang sejak 1.000 hari pertama kehidupan agar generasi kita tumbuh sehat dan kuat,” tuturnya.
Sebagai pionir pertama di NTT, SPPG Noelbaki berharap pola pengolahan bahan segar dan ketepatan nutrisi ini dapat diadopsi oleh masyarakat luas di lingkungan rumah tangga masing-masing. Dengan mengandalkan keberagaman pangan lokal, diharapkan masyarakat Kupang tidak lagi bergantung pada pangan olahan pabrikan yang minim nutrisi demi menciptakan generasi emas yang sehat dan tangguh.
"Mari kita manfaatkan pangan lokal yang tinggi gizinya daripada mengonsumsi pangan jadi, karena optimalisasi gizi harus dimulai dari kesadaran kita di rumah," pungkas Katarina Leni menutup sesi edukasinya. Dukungan teknologi dapur modern dan kolaborasi tim yang solid di Noelbaki terbukti mampu menjaga konsistensi kualitas asupan bagi ribuan jiwa setiap harinya. (AK)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....