Petani Garam Oeteta Minta Bantuan Ekskavator Perbaiki Tambak
- 28 Apr 2026 21:05 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Lukas seorang petani tambak garam di Desa Oeteta, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, telah menggeluti usaha tambak garam sejak tahun 2011 hingga sekarang dengan penuh ketekunan. Ia menuturkan bahwa panen garam sangat bergantung pada kondisi musim, di mana saat kemarau panjang produksi meningkat, sedangkan saat hujan produksi mengalami penurunan cukup signifikan.
Pada tahun 2025, Lukas mencatat total produksi garam mencapai sekitar 4.000 karung dengan kemasan masing-masing seberat 50 kilogram yang menjadi sumber penghasilan utamanya. Produksi tersebut dinilai cukup baik meskipun masih dipengaruhi oleh kondisi cuaca yang tidak menentu sepanjang tahun di wilayah tersebut.
Lukas mengelola lahan tambak seluas 3,5 hektare dari total sekitar 14 hektare area tambak garam yang berada di Desa Oeteta, Kecamatan Sulamu. Namun demikian, ia menyebutkan bahwa masih terdapat beberapa bagian lahan yang belum direhabilitasi sehingga belum dapat dimanfaatkan secara optimal untuk produksi garam.
Dalam proses produksi, Lukas dan kelompok tani disana menggunakan dua teknik utama yaitu teknik geomembran yang lebih modern serta teknik meja tanah atau meja kristalisasi yang masih bersifat tradisional. Kedua teknik tersebut digunakan secara bersamaan untuk menyesuaikan kondisi lahan serta kemampuan biaya yang dimiliki oleh petani tambak garam setempat.
Ia mengungkapkan bahwa kendala terbesar yang dihadapi saat ini adalah kerusakan pematang tambak akibat dampak badai Seroja yang melanda wilayah tersebut beberapa waktu lalu. Untuk memperbaiki kerusakan tersebut, dibutuhkan alat berat berupa ekskavator yang biaya sewanya tergolong cukup mahal bagi petani.
Biaya sewa ekskavator diketahui mencapai sekitar Rp2,5 juta per hari di luar biaya bahan bakar serta mobilisasi alat menuju lokasi tambak yang cukup jauh. Untuk memperbaiki lahan miliknya, Bapak Lukas memperkirakan membutuhkan Rp5 juta dan waktu sekitar tiga hari penggunaan ekskavator agar pematang dapat kembali berfungsi dengan baik.
Hasil produksi garam yang diperoleh kemudian dijual ke wilayah Oebelo dan Tuasene dengan harga sekitar Rp50 ribu per karung berukuran 50 kilogram. Pada saat musim panen, dalam kurun waktu satu minggu, ia mampu menghasilkan hingga 200 karung garam yang siap dipasarkan ke berbagai wilayah tersebut.
Bapak Lukas berharap pemerintah dapat memberikan bantuan berupa penyediaan ekskavator guna membantu proses perbaikan pematang serta meja kristalisasi yang rusak. Harapan tersebut juga mewakili kelompok tani garam di wilayah tersebut yang mengelola sekitar 14 hektare lahan agar produktivitas mereka dapat meningkat secara berkelanjutan. (AN)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....