Perkuat Ketangguhan Perempuan, PLN Gelar Work-Life Integration
- 26 Apr 2026 08:27 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Menjadi perempuan yang berkarir di industri kelistrikan bukanlah perkara mudah. Diperlukan ketangguhan mental untuk tetap profesional di tengah tuntutan peran sebagai ibu, istri, maupun individu.
Semangat inilah yang melandasi PT PLN (Persero) UIW NTT saat menggelar Srikandi Movement bertajuk “Inspiring Srikandi - Worklife Integration: Strong Women in the Modern Era” bertempat di Ruang Sasando pada Jumat, 24 April 2026.
Srikandi Movement adalah gerakan inisiatif dari komunitas pegawai perempuan PT PLN (Persero) yang dikenal sebagai Srikandi PLN. Gerakan ini berfokus pada pemberdayaan masyarakat, khususnya perempuan dan kelompok rentan, untuk meningkatkan kualitas hidup. Suasana hangat menyelimuti pertemuan para perempuan hebat PLN di NTT.
Mereka berkumpul bukan sekadar untuk memperingati Hari Kartini, melainkan untuk saling berbagi beban dan inspirasi tentang bagaimana tetap tegak berdiri menghadapi tantangan zaman. Pembina Srikandi PLN UIW NTT, Taufiq Dwi Nurcahyo, menyampaikan pesan yang menyentuh sisi kemanusiaan. Ia memandang bahwa kebijakan perusahaan bukan hanya soal prosedur, tapi soal menghargai hakikat perempuan.
“Kita melihat para Srikandi ini sebagai pahlawan multi-peran. Di kantor mereka adalah penggerak energi, di rumah mereka adalah cahaya keluarga. PLN ingin memastikan bahwa saat mereka berjuang untuk perusahaan, mereka tetap merasa didukung dan memiliki ruang setara untuk bermimpi,” kata Taufiq.
Margaretha Yupukoni, selaku Champion Srikandi PLN UIW NTT, mengajak rekan sejawatnya untuk membuang rasa ragu. Ia menekankan bahwa sentuhan feminin di tengah industri maskulin adalah sebuah kekuatan, bukan kelemahan.
“Kita layak berada di sini. PLN memberikan kita ruang untuk tetap menjadi perempuan seutuhnya yang kuat secara mental dan emosional. Kita tidak perlu menjadi orang lain untuk sukses di industri ini,” ucapnya.
Diskusi menjadi semakin mendalam saat psikolog Theodora Takalapeta memaparkan bahwa konsep work-life balance (keseimbangan) terkadang justru menjadi jebakan yang melelahkan. Ia menawarkan konsep work-life integration.
“Seringkali kita merasa gagal karena tidak bisa membagi waktu 50:50. Padahal, hidup tidak bekerja seperti itu. Integration adalah tentang bagaimana mengalirkan peran satu ke peran lainnya dengan luwes. Kuncinya bukan pada pembagian jam, tapi pada resiliensi dan bagaimana kita mengelola energi agar tidak layu di salah satu sisi kehidupan,” ujar Theodora.
Melalui kegiatan ini, PLN NTT membuktikan bahwa energi yang mereka kelola bukan hanya listrik yang mengalir di kabel-kabel, tetapi juga energi kemanusiaan yang memberdayakan para perempuannya untuk terus bersinar, bertumbuh, dan menginspirasi sesama.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....