Transformasi Digital Jadi Kunci UMKM NTT Bersaing di tengah Dinamika Pasar

  • 25 Apr 2026 18:02 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus memegang peranan krusial dalam menopang perekonomian daerah. Namun, di tengah persaingan pasar yang semakin ketat dan perilaku konsumen yang berubah cepat, pola penjualan konvensional yang hanya mengandalkan toko fisik kini menghadapi tantangan besar. Para pelaku usaha dituntut untuk segera beradaptasi dengan memanfaatkan platform digital, mulai dari media sosial hingga e-commerce, guna meningkatkan jangkauan pasar serta efisiensi operasional tanpa harus terbebani biaya sewa tempat yang tinggi.

Digitalisasi bukan sekadar memindahkan lapak jualan ke dunia maya, melainkan langkah strategis untuk memangkas biaya operasional dan memperluas basis pelanggan. Data menunjukkan bahwa penetrasi internet di Indonesia, khususnya di kalangan milenial dan Gen Z, telah mencapai angka yang sangat signifikan. Penggunaan teknologi digital, termasuk sistem pembayaran elektronik seperti QRIS dan e-wallet, terbukti memudahkan transaksi dan meningkatkan efisiensi bagi konsumen maupun pelaku usaha, sehingga produk lokal dapat diakses oleh siapa pun di mana pun tanpa batasan geografis.

Menanggapi fenomena ini, Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nusa Cendana, Rikhard T. Ch. Bolang, S.E., M.Ec.Dev., menekankan bahwa pelaku UMKM di Nusa Tenggara Timur (NTT) mau tidak mau harus beriringan dengan perkembangan teknologi digital. Dalam program Beranda Astacita di Pro 1 RRI Kupang pada Jumat, 24 April 2026, Rikhard menjelaskan bahwa dunia ekonomi bergerak sangat dinamis, dan pengusaha yang mampu bertahan adalah mereka yang mau beradaptasi dengan perubahan zaman dan kebutuhan pasar terkini.

Meski demikian, Rikhard juga menyoroti adanya aspek psikologis konsumen yang perlu diperhatikan, yang dalam ilmu ekonomi dikenal sebagai experience economy. Banyak konsumen masih memiliki preferensi kuat untuk berbelanja secara fisik guna memastikan kualitas produk dan membangun kepercayaan. Oleh karena itu, ia menyarankan pelaku usaha untuk mengkombinasikan strategi digital dengan pendekatan pengalaman belanja. Strategi ini bukan berarti meninggalkan metode konvensional, melainkan mengintegrasikannya agar calon pembeli merasa yakin dengan kredibilitas produk yang ditawarkan.

Tantangan nyata bagi UMKM di NTT, menurut Rikhard, adalah masih lemahnya kualitas kemasan, fotografi produk yang kurang menarik, serta minimnya pencatatan keuangan yang rapi. Banyak pelaku usaha masih terjebak dalam pola pikir subsisten—usaha yang dijalankan sekadar untuk memenuhi kebutuhan harian—tanpa ada perencanaan pengembangan yang matang. Hal ini menyebabkan banyak usaha sulit naik kelas dan tidak memiliki akses permodalan perbankan yang layak karena belum memenuhi syarat administrasi atau dianggap unbankable.

Untuk mengatasi kendala tersebut, kepemilikan Nomor Induk Berusaha (NIB) menjadi langkah awal yang mutlak harus dipenuhi. Rikhard mengapresiasi inisiatif pemerintah daerah yang bekerja sama dengan perguruan tinggi, di mana mahasiswa dilibatkan dalam program KKN untuk membantu UMKM mendaftarkan NIB. Langkah ini sangat krusial agar pelaku usaha dapat mengakses berbagai program pendampingan, pelatihan, serta bantuan modal pemerintah seperti KUR dan UMI yang dapat menopang keberlangsungan dan skala usaha mereka.

Rikhard menekankan pentingnya UMKM untuk mulai memberikan narasi atau cerita di balik produk yang mereka jual. Narasi yang kuat, didukung dengan visual yang menarik dan testimoni pelanggan, akan menjadi daya tarik tersendiri bagi calon konsumen di pasar daring. Dengan memadukan pembenahan kemasan, literasi keuangan, serta kemauan untuk mengadopsi teknologi, UMKM di NTT diharapkan mampu bertransformasi menjadi penggerak ekonomi yang lebih tangguh dan kompetitif di masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....