Mengolah Sampah Branded, UKM Fua Funi Ciptakan Peluang Ekonomi Baru
- 25 Apr 2026 05:21 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang- Mencintai produk dalam negeri tidak hanya soal membeli barang baru, tetapi juga tentang bagaimana memberikan nilai tambah pada produk lokal agar mampu bersaing di era modern. Bengkel tas dan sepatu UKM Fua Funi hadir untuk memberikan sentuhan baru bernuansa lokal bagi barang yang dianggap sudah tidak dapat dipakai lagi.
Dalam dialog "Kita Indonesia" di Pro 4 RRI Kupang, Jumat 24 April 2026, Afliana Widia Ullu, Pemilik Usaha Bengkel Tas dan Sepatu UKM Fua Funi membagikan kisahnya dalam membangun usaha yang telah berjalan selama 11 tahun tersebut. Berawal dari keinginan untuk memiliki penghasilan dari rumah tanpa meninggalkan tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga, ia mendirikan Fua Funi, nama yang dalam bahasa Rote berarti "Tempat Kelahiran".
Salah satu fokus utama UKM Fua Funi adalah mengelola "sampah branded". Widia menjelaskan bahwa banyak ibu-ibu memiliki koleksi tas atau sepatu bermerek yang kulitnya sudah terkelupas namun rangkanya masih kokoh.
“Ide yang saya buat pertama kali itu adalah membuat sebuah usaha dengan nama bengkel tas dan sepatu Fuafuni. Di bengkel tas dan sepatu Funi ini, saya mengelola sampah-sampah branded, misalnya tas-tas dari para ibu-ibu atau sepatu yang sudah terkelupas sebagian tapi masih layak dipakai, saya perbaiki lalu saya modifikasi dengan tenun. Saya ingin menghadirkan tenun dalam berbagai macam produk, seperti tas tenun, blazer atau sepatu tenun,” ujarnya.
Proses modifikasi ini tidak hanya menyelamatkan lingkungan dari limbah, tetapi juga menciptakan produk baru dengan nilai etnik yang tinggi. Produk turunan tenun yang dihasilkan meliputi tas, sepatu, hingga blazer yang kini mulai diminati berbagai kalangan, termasuk pasar mancanegara seperti Timor Leste.
Widia menegaskan bahwa usahanya tidak berdiri sendiri. Ia membangun jaringan dengan para penenun lokal untuk memastikan ketersediaan bahan baku sekaligus membantu perekonomian pengrajin lainnya
Selain itu, ia juga memberdayakan ibu-ibu di sekitar lingkungannya. Dengan memberikan pelatihan gratis, ia mengajak para ibu untuk bisa bekerja dari rumah masing-masing.
"Prinsip saya ialah kita ibu-ibu jangan meninggalkan rumah, tetapi juga berpenghasilan," tegasnya.
Menghadapi tantangan zaman, Widia memiliki mimpi besar untuk mengubah UKM miliknya menjadi sebuah yayasan atau lembaga pelatihan. Tujuannya adalah agar keterampilan memodifikasi tenun ini dapat diwariskan kepada generasi muda, khususnya bagi mereka yang tidak memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Ia berpesan kepada para pelaku UMKM lainnya untuk tidak takut terhadap persaingan. Baginya, ketekunan dan kesabaran adalah kunci utama untuk bertahan.
"Kita jangan takut untuk tersaingi, tetapi kita berbagi apa yang kita miliki untuk bisa dinikmati orang lain dan terus sampai generasi berikutnya,” tutupnya. (JR)
Melalui langkah sederhana seperti menggunakan dan merawat produk lokal, masyarakat diharapkan dapat semakin bangga terhadap identitas budaya Indonesia, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional melalui sektor UMKM.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....