Flobamorata Business and Economic Dorong Transformasi Ekonomi Inklusif NTT

  • 23 Apr 2026 14:45 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID,Kupang-Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar Flobamorata Business and Economic Forum 2026 di Hotel Harper Kupang pada Kamis, 23 April 2026. Forum ini mengusung tema “Ketangguhan Menuju Kemajuan: Sinergi Transformasi Ekonomi NTT yang Inklusif dan Berdaya Saing”.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia NTT, Adidoyo Prakoso, dalam paparannya menyampaikan bahwa kinerja ekonomi NTT sepanjang 2025 menunjukkan tren positif. Pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,14% (year-on-year), lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang mencapai 5,12%.

“Pertumbuhan ini ditopang oleh sektor pertanian, perdagangan, serta administrasi pemerintahan. Konsumsi dan ekspor juga tetap kuat,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tahun 2026 menghadirkan tantangan global, termasuk ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada kenaikan harga komoditas dan gangguan logistik global. Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi NTT pada 2026 berada di kisaran 4,94% hingga 5,54%, dengan optimisme didorong oleh program ekonomi kerakyatan, percepatan proyek strategis, serta peningkatan produksi komoditas unggulan.

Dalam keynote speech, Gubernur NTT, Melki Laka Lena, menekankan pentingnya transformasi ekonomi berbasis produksi dan kewirausahaan. “NTT ini kekurangan pengusaha. Kita harus mendorong lebih banyak masyarakat untuk berproduksi, bukan hanya menjadi pengamat,” katanya.

Ia menyoroti bahwa sektor pertanian menjadi tulang punggung ekonomi yang inklusif karena menyerap sekitar 60% tenaga kerja di NTT. Oleh karena itu, peningkatan produktivitas dan hilirisasi menjadi kunci agar nilai tambah tetap berada di daerah.

Selain itu, pemerintah provinsi juga mendorong pengembangan klaster ekonomi berbasis wilayah, seperti Manggarai Raya, Flores Tengah, hingga kawasan perbatasan. Gubernur juga menyinggung sejumlah potensi unggulan daerah, seperti Pengembangan industri garam di Rote sebagai pusat pasokan nasional, Proyek budidaya udang di Sumba Timur bernilai triliunan rupiah serta Penguatan sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan pariwisata

Ia menegaskan bahwa hilirisasi harus menjadi fokus agar hasil produksi tidak hanya dijual mentah, tetapi memiliki nilai tambah tinggi. Pada kesempatan yang sama, Bank Indonesia bersama Pemerintah Provinsi NTT meluncurkan program Karsa Nusa (Kajian dan Riset Kebijakan Ekonomi Nusa Tenggara Timur).

Program ini menjadi wadah kolaborasi antara akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah dalam menghasilkan rekomendasi kebijakan yang konkret dan implementatif. Forum ini diharapkan menjadi momentum memperkuat sinergi antar pemangku kepentingan dalam mendorong transformasi ekonomi NTT yang Inklusif, Produktif dan Berkelanjutan. (DW)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....