Ancaman El Nino Godzilla: Pakar UKAW Ingatkan Dampak Serius bagi Ketahanan Pangan
- 21 Apr 2026 15:34 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Nusa Tenggara Timur (NTT) kini berada dalam bayang-bayang fenomena "El Nino Godzilla", sebuah istilah untuk menggambarkan kekeringan ekstrem dengan intensitas sangat kuat. Guru Besar Ilmu Teknik Sumber Daya Alam dan Lingkungan Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang, Prof. Dr. Jonatan Ebet Koehuan, S.T.P., M.P., memperingatkan bahwa fenomena ini dipicu oleh kenaikan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang mencapai 1,5 hingga 2 derajat Celcius, diperparah dengan kondisi suhu di Samudra Hindia yang tidak menentu.
Dalam Wawancara Kupang Pagi di Pro 1 RRI Kupang, Senin, 13 April 2026, Prof. Jonatan menjelaskan bahwa fenomena global ini diprediksi akan berlangsung di Indonesia antara April hingga Oktober 2026. Wilayah selatan Indonesia, khususnya NTT, menjadi salah satu daerah yang paling rentan karena letak geografisnya yang unik dan secara alami memang merupakan wilayah semi-kering. Struktur tanah karst yang dominan serta tipe hutan sabana membuat ketersediaan air di NTT semakin tertekan saat menghadapi musim kemarau ekstrem seperti ini.
Dampak utama dari El Nino Godzilla ini menyerang sektor primer yang menjadi tumpuan hidup masyarakat NTT, yakni pertanian, peternakan, dan perikanan. Sektor-sektor ini sangat bergantung pada kondisi cuaca. Prof. Jonatan menyoroti bahwa tanaman pangan lokal seperti padi dan jagung akan menghadapi tekanan negatif karena kebutuhan air yang tinggi. Sebagai gambaran, 1 meter kubik air rata-rata hanya mampu menghasilkan sekitar 459 gram beras atau 792 gram jagung, sehingga penurunan pasokan air akan berdampak langsung pada produktivitas pangan.
Meski demikian, fenomena kekeringan ini tidak selalu berdampak buruk pada semua komoditas. Prof. Jonatan menyebutkan bahwa kualitas tanaman tertentu justru bisa meningkat, seperti tebu yang rendemennya naik karena kadar air berkurang. Begitu pula dengan beberapa jenis buah-buahan yang meski ukurannya mungkin tidak bertambah besar, namun akan memiliki rasa yang jauh lebih manis dan enak karena konsentrasi gula yang lebih tinggi akibat minimnya air.
Terkait kesiapan masyarakat, Prof. Jonatan menilai bahwa petani NTT secara psikologis siap menghadapi tantangan karena tuntutan bertahan hidup, namun secara teknis masih banyak yang belum memiliki pengetahuan dan faktor produksi yang memadai. Ia menegaskan bahwa menyiapkan petani adalah pekerjaan rumah (PR) bersama antara pemerintah, akademisi, hingga tokoh agama. Kolaborasi inklusif dan penguatan modal sosial seperti gotong royong sangat dibutuhkan karena tantangan ini tidak bisa dihadapi secara individu.
Sebagai langkah adaptasi yang realistis, Prof. Jonatan menyarankan integrasi manajemen suplai dan permintaan air. Pemerintah perlu memastikan infrastruktur distribusi air dari waduk atau bendungan sampai ke lahan petani. Di sisi lain, petani harus mulai melakukan penghematan air (manajemen permintaan), seperti mengurangi tinggi genangan air di sawah agar petani di bagian hilir tetap mendapatkan aliran air. Ia juga mengingatkan agar penggunaan sumur bor hanya dilakukan sebagai solusi jangka pendek di puncak musim kering.
Prof. Jonatan mengajak semua pihak untuk kembali menjaga kelestarian alam melalui sistem agroforestri sebagai penyangga (buffer) bencana iklim jangka panjang. Ia menekankan pentingnya menggabungkan kearifan lokal dengan pengetahuan modern seperti pertanian cerdas iklim. Hal ini menjadi krusial mengingat tantangan ke depan tidak hanya soal krisis iklim, tetapi juga potensi krisis energi akibat dinamika geopolitik global yang dapat memengaruhi biaya produksi pertanian.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....