Perumda Kota Kupang Ungkap Tantangan dan Solusi Krisis Air Bersih
- 21 Apr 2026 15:13 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Ancaman kekeringan dan krisis air bersih di Kota Kupang mulai menjadi perhatian serius seiring peralihan musim dan potensi dampak El Nino yang diprediksi lebih panjang dan ekstrem pada 2026. Kondisi cuaca yang terasa semakin panas, meski sebelumnya sempat terjadi hujan, menjadi sinyal awal bahwa ketersediaan air bersih ke depan perlu diantisipasi secara matang oleh pemerintah dan masyarakat.
Dalam program Dialog Kupang Menyapa di Pro 1 RRI Kupang Jumat, 10 April 2026 lalu, berbagai strategi dibahas untuk menghadapi situasi tersebut, mulai dari langkah darurat hingga upaya jangka panjang. Pemerintah Kota Kupang bersama berbagai pihak disebut telah mempersiapkan skenario penanganan, baik melalui distribusi air bersih, edukasi masyarakat, hingga penguatan sistem pelayanan air.
Direktur Utama Perumda Air Minum Kota Kupang, Isidorus Lilijawa, S.Fil., MM, menjelaskan bahwa dari sisi penyediaan air, kondisi saat ini sebenarnya masih menghadapi keterbatasan bahkan dalam situasi normal. Ia menyebut cakupan pelayanan Perumda baru menjangkau sekitar 20 persen dari total penduduk Kota Kupang, sehingga tantangan akan semakin besar ketika musim kemarau ekstrem terjadi.
Menurutnya, sumber air baku yang dikelola Perumda terdiri dari air permukaan di Kali Dendeng dan air tanah melalui sumur bor. Namun, persoalan utama bukan pada ketersediaan air, melainkan pada keterbatasan jaringan distribusi. Ia mencontohkan, kapasitas produksi di Kali Dendeng sebenarnya mampu melayani hingga 15 ribu sambungan rumah, tetapi saat ini baru sekitar 4 ribu yang terlayani.
Isidorus menambahkan, kondisi tersebut menyebabkan masih adanya potensi air yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Oleh karena itu, pihaknya terus mendorong pengembangan jaringan sebagai solusi utama agar akses air bersih bisa lebih merata, terutama di wilayah yang selama ini mengalami kesulitan seperti Kecamatan Alak.
Dalam menghadapi ancaman kekeringan panjang, Perumda juga telah menyiapkan sejumlah strategi, di antaranya rekayasa distribusi air dengan sistem penggiliran, edukasi penggunaan air secara hemat, serta program “berbagi air” melalui mobil tangki untuk membantu masyarakat yang belum terjangkau jaringan, khususnya kelompok kurang mampu dan lembaga sosial.
Selain itu, Isidorus menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mengatasi krisis air, termasuk dengan pemerintah daerah, instansi teknis, hingga pihak swasta. Ia juga mengingatkan bahwa eksploitasi air tanah yang tidak terkontrol dapat memicu krisis di masa depan, sehingga perlu diimbangi dengan upaya konservasi lingkungan seperti penanaman pohon dan menjaga resapan air.
Isidorus pun mengimbau masyarakat untuk tidak panik, tetapi tetap waspada dan bijak dalam menggunakan air. Menurutnya, kekeringan merupakan fenomena yang rutin terjadi di NTT, namun dengan kesiapan, pengelolaan yang baik, serta partisipasi aktif masyarakat, dampaknya dapat diminimalkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....