Kreativitas Pangan Lokal Tingkatkan Nilai Ekonomi dan Berdayakan Masyarakat NTT
- 17 Apr 2026 04:28 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Di tengah tantangan ekonomi global, sektor usaha kreatif muncul sebagai kekuatan baru yang mampu menggerakkan roda perekonomian di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kreativitas terbukti tidak hanya melahirkan produk unik, tetapi juga membuka peluang kerja dan memberdayakan masyarakat akar rumput.
Dalam dialog "Obrolan Akamsi" di RRI Pro 4 Kupang, Selasa, 14 April 2026, Yustina S. Sadji, Ketua Jaringan Perempuan Usaha Kreatif (Jarpuk) Ina Foa NTT sekaligus pemilik usaha Mindari Kupang, berbagi pandangannya mengenai peran vital UMKM dalam ekonomi daerah. Sejak tahun 2014, Mindari Kupang. berfokus pada potensi pangan lokal NTT yang melimpah, seperti pisang dan ubi kayu, agar memiliki nilai jual lebih tinggi dan mampu bersaing dengan produk luar.
Beberapa produk inovatif yang dihasilkan antara lain, olahan pisang, seperti keripik pisang gula lontar, karamel, hingga varian salut nangka. Selain itu produk lokal dari umbi-umbian, stik ubi kayu, keripik balado, dan kerupuk ubi kayu.
"Wajah NTT harus tergambar melalui produk-produk yang dihasilkan dari bahan pangan lokal kita sendiri," ujarnya.
Sebagai Ketua Jarpuk Ina Foa, organisasi yang berdiri sejak 2002, Yustina menekankan pentingnya kolaborasi antarperempuan pelaku usaha. Jarpuk menjadi wadah bagi perempuan "akar rumput" untuk saling menguatkan dan berbagi motivasi.
"Jika kita ingin berjalan jauh, alangkah baiknya kita berjalan bersama. Saat salah satu jatuh, yang lain akan mengangkat," ungkapnya.
| Baca juga: Bupati Kupang Dorong ASN Gunakan Beras Lokal |
Meski memiliki potensi besar, UMKM di NTT masih menghadapi berbagai tantangan, terutama bagi mereka yang berada di pelosok desa, karena mereka lebih kesulitan mendapatkan kemasan kekinian yang mampu bersaing di pasar modern. Kewajiban untuk melek teknologi dalam hal pemasaran dan perizinan berbasis digital (OSS), juga memaksa pelaku umkm yang ada di pelosok untuk berani berinovasi menghasilkan produk yang bernilai jual tinggi, serta menjaga keberlangsungan usaha agar tidak sekadar menjadi usaha musiman.
Yustina berharap pemerintah tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga hadir secara nyata dalam membantu akses kemasan dan perizinan bagi UMKM di desa. Ia juga menyarankan adanya klasterisasi produk di gerai seperti NTT Mart serta penyelenggaraan pasar UMKM tingkat kecamatan secara berkala sebagai wadah pemasaran offline.
“Tidak hanya Mindari saja, namun bagaimana Jarpuk Inafoa juga menjadi salah satu organisasi akar rumput yang bisa mempunyai tempat pelatihan terkait pangan lokal dan kerajinan-kerajinan lokal, semua perempuan bisa belajar tentang akses kemasan, tentang produk-produk dari pangan lokal, dan tempat di mana sebagai wadah kita saling sharing. Saya juga berharap pemerintah hadir melihat langsung proses yang terjadi di UMKM dan menjawab kebutuhan UMKM,” tuturnya. (JR)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....