Pawai Ogoh-Ogoh Kupang Perkuat Toleransi

  • 23 Mar 2026 08:11 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID,Kupang – Rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1948 di Kota Kupang ditandai dengan pawai ogoh-ogoh yang berlangsung meriah dan sarat makna spiritual. Kegiatan ini menjadi simbol penyucian diri sekaligus momentum memperkuat toleransi antarumat beragama di ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur tersebut.

Ketua Panitia, I Wayan Gede Astawa, menyampaikan bahwa seluruh rangkaian kegiatan Nyepi tahun ini dirancang tidak hanya berfokus pada ritual keagamaan, tetapi juga melibatkan masyarakat lintas iman melalui berbagai aksi sosial.

“Kami menggelar donor darah, berbagi takjil, hingga buka puasa bersama sebagai bentuk kebersamaan dan toleransi di tengah masyarakat yang majemuk,” ujarnya.


Pawai ogoh-ogoh yang menjadi puncak kegiatan menghadirkan berbagai patung raksasa yang melambangkan sifat-sifat negatif manusia, seperti amarah, keserakahan, dan kebencian. Patung tersebut diarak keliling sebelum akhirnya dimusnahkan sebagai simbol pembersihan diri menjelang Nyepi.

Mewakili Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia, I Gusti Ngurah Suarnawa menjelaskan bahwa pawai ogoh-ogoh merupakan bagian dari rangkaian Tawur Kesanga, yang bertujuan menyeimbangkan hubungan antara manusia dan alam semesta.

“Melalui ritual ini, umat Hindu diajak untuk membersihkan diri dari energi negatif sebelum memasuki Hari Raya Nyepi,” jelasnya.

Sementara itu, Wali Kota Kupang, Christian Widodo, menilai perayaan Nyepi di Kupang menjadi contoh nyata praktik toleransi yang hidup di tengah masyarakat.

Menurutnya, kegiatan lintas agama seperti berbagi takjil dan buka puasa bersama menunjukkan bahwa nilai keimanan tidak hanya diwujudkan dalam ibadah, tetapi juga dalam tindakan nyata yang memperkuat persaudaraan.

“Perbedaan bukan untuk diseragamkan, tetapi untuk diseimbangkan. Itulah makna harmoni yang terus kita jaga di Kota Kupang,” kata Christian.

Ia juga mengapresiasi kontribusi umat Hindu dalam menjaga stabilitas sosial dan memperkuat citra Kupang sebagai kota yang inklusif dan damai.

Setelah pawai ogoh-ogoh, umat Hindu di Kota Kupang akan melaksanakan Catur Brata Penyepian selama 24 jam, yang meliputi empat pantangan utama sebagai bentuk refleksi dan pengendalian diri.

Perayaan Nyepi di Kupang tahun ini tidak hanya menjadi agenda keagamaan, tetapi juga ruang perjumpaan budaya dan simbol kuat kerukunan antarumat beragama di kawasan timur Indonesia. (As)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....