Penyuluh Agama Kristen Tekankan Pengendalian Amarah sejak dalam Pikiran

  • 22 Mar 2026 04:56 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Penyuluh Agama Kristen Kanwil Kementerian Agama NTT, Samuel Sailana, menegaskan pentingnya mengendalikan amarah sejak masih berada dalam pikiran. Hal ini disampaikan dalam dialog Mutiara Pagi di Pro1 RRI Kupang, Minggu 22 Maret 2026.

Menurutnya, amarah merupakan proses yang dimulai dari cara berpikir dan merespons suatu situasi. Karena itu, pengendalian diri paling efektif dilakukan sebelum emosi tersebut berubah menjadi tindakan.

Samuel menjelaskan bahwa ketika amarah sudah diwujudkan dalam tindakan, maka akan lebih sulit untuk dikendalikan. Oleh sebab itu, setiap individu perlu belajar “mengunci” emosi sejak awal kemunculannya di dalam pikiran.

Ia menambahkan bahwa proses pengendalian diri membutuhkan latihan yang konsisten dari waktu ke waktu. Tanpa latihan, seseorang akan kesulitan mengatur emosi ketika menghadapi situasi yang memicu kemarahan.

Selain itu, keterlibatan iman dinilai sangat penting dalam membantu seseorang menguasai diri. Pada titik tertentu, manusia membutuhkan pertolongan Tuhan untuk menuntun hati dan pikiran agar tetap berada pada arah yang benar.

Samuel juga mengungkapkan bahwa dalam diri manusia terdapat berbagai dorongan yang saling bertentangan. Arah hidup seseorang sangat ditentukan oleh siapa yang memimpin hati dan pikirannya.

Sementara itu, salah satu pendengar, Pak Endang dari Cabang Raknamo, menyampaikan bahwa mengendalikan diri bukanlah hal mudah. Ia menilai dibutuhkan iman yang kuat untuk dapat “memenangkan” diri sendiri.

“Agak sulit dan butuh iman untuk memenangkan diri sendiri. Perlu penguatan agar kita memiliki iman yang kuat,” ujarnya.

Pendengar lainnya, Opa Emi di Tilong, mengatakan bahwa menahan amarah merupakan perjuangan berat dalam kehidupan sehari-hari. Ia menilai memilih diam saat marah menjadi salah satu bentuk pengendalian diri yang tidak mudah dilakukan.

Ia juga menjelaskan bahwa amarah dapat muncul dalam beberapa bentuk, yakni agresif, pasif, dan afektif. Setiap bentuk tersebut memiliki cara penanganan yang berbeda dan membutuhkan kesadaran diri.

Penyuluh Agama Kristen, Samuel Sailana menekankan pentingnya mengelola emosi dengan lebih bijak. Pengendalian diri yang dilatih sejak dalam pikiran serta diperkuat dengan iman diyakini dapat membantu menciptakan kehidupan yang lebih damai. (ST)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....