Gubernur NTT Terima Audiensi Keluarga Tuan Ma Semana Santa

  • 11 Mar 2026 08:08 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID-Kupang - Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, menerima audiensi perwakilan keluarga Lajanti Tuan Ma di ruang kerja Gubernur NTT Selasa, 10 Maret 2026 pagi. Pertemuan tersebut membahas kesiapan dan kelancaran pelaksanaan Prosesi Semana Santa atau Pekan Suci Paskah di Larantuka, Kabupaten Flores Timur.

Audiensi tersebut dilakukan sebagai bagian dari koordinasi menjelang pelaksanaan Semana Santa yang dijadwalkan berlangsung selama tujuh hari pada minggu pertama April 2026 mendatang. Tradisi ini merupakan ritual keagamaan tahunan yang selalu menarik ribuan peziarah dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara.

Dalam pertemuan itu, Gubernur Melki Laka Lena menilai Semana Santa sebagai ikon pariwisata religi Flores Timur yang memiliki nilai sejarah dan spiritual yang sangat kuat. Ia menekankan pentingnya penyusunan narasi sejarah yang lebih jelas dan terstruktur terkait asal-usul tradisi tersebut.

Menurutnya, hingga saat ini sebagian besar peziarah yang datang mengikuti prosesi Semana Santa masih memperoleh informasi sejarah secara lisan dan belum terdokumentasi secara sistematis. Karena itu, ia menyarankan agar pihak keluarga penjaga tradisi bersama pihak keuskupan dapat duduk bersama untuk menyusun narasi sejarah yang disepakati secara resmi.

“Tradisi ini memiliki dampak yang sangat besar. Namun informasi sejarahnya perlu dinarasikan dengan baik agar orang memahami makna dan nilai yang terkandung di dalamnya,” kata Melki.

Ia menjelaskan, narasi yang kuat memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan sebuah tradisi, karena dapat menjadi pengikat emosional, penjaga nilai budaya, serta jembatan pewarisan tradisi kepada generasi berikutnya.

Selain aspek budaya dan spiritual, Gubernur Melki juga menekankan pentingnya memaksimalkan potensi ekonomi dari penyelenggaraan Semana Santa. Menurutnya, kedatangan ribuan peziarah setiap tahun dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat lokal, khususnya di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Tanpa mengurangi kesakralannya, tradisi ini juga harus dipikirkan dampak ekonominya bagi masyarakat sekitar. Ini adalah potensi besar yang perlu dikelola dan dikembangkan dengan konsep yang lebih baik,” ujarnya.

Sebagai informasi, Semana Santa di Larantuka merupakan tradisi Pekan Suci warisan Portugis yang telah berlangsung sejak abad ke-17 atau sekitar tahun 1662. Tradisi ini berpusat pada penghormatan kepada Yesus Kristus yang dikenal sebagai Tuan Ana dan Bunda Maria yang disebut Tuan Ma, dengan puncak prosesi berlangsung pada Jumat Agung melalui perarakan laut dan darat yang berlangsung secara sakral dan penuh khidmat.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....