Disparekraf Provinsi NTT Perkuat Standarisasi Produk Pangan Lokal

  • 10 Mar 2026 09:18 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif terus mendorong peningkatan kualitas produk pangan lokal yang dihasilkan oleh pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Upaya ini dilakukan melalui kegiatan workshop standarisasi produksi pangan yang akan dilaksanakan di wilayah Lelogama, Kabupaten Kupang.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Bidang (Kabid) Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi NTT, Mathias M. Beeh, S.St.Par, M.M dalam Wawancara Kupang Pagi Selasa, 10 Maret 2026. Mathias Beeh mengatakan, kegiatan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah untuk meningkatkan daya saing produk lokal agar mampu menembus pasar modern hingga pasar internasional.

“Program ini tentu sejalan dengan visi pemerintah daerah dalam mendorong konsep One Village One Product, yaitu setiap desa memiliki satu produk unggulan yang memiliki nilai jual tinggi dan dikenal luas oleh masyarakat,” katanya. Mathias mengatakan bahwa aspek keamanan pangan serta legalitas izin edar merupakan fondasi utama yang harus dimiliki setiap produk kuliner lokal.

Hal ini penting agar produk dapat diterima oleh pasar modern sekaligus memberikan rasa aman bagi konsumen. Menurutnya, penjaminan mutu produk harus dilakukan melalui kepatuhan terhadap Standar Nasional Indonesia (SNI) serta penerapan cara produksi pangan yang baik.

“Dengan demikian, produk yang dihasilkan pelaku UMKM di NTT dapat meningkatkan kepercayaan konsumen sekaligus memperkuat identitas merek lokal,” katanya. Dalam workshop tersebut, para peserta juga mendapatkan edukasi mengenai pentingnya kepemilikan Nomor Induk Berusaha (NIB) serta sertifikasi halal sebagai syarat untuk memperluas akses pemasaran.

Edukasi ini dinilai penting karena masih banyak pelaku usaha di wilayah pedesaan yang belum memahami prosedur pengurusan izin industri rumah tangga maupun proses pengawasan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Selain aspek legalitas, materi pelatihan juga menyoroti pentingnya inovasi dalam desain kemasan dan pelabelan produk.

Informasi seperti nama produk, komposisi bahan baku, berat bersih, serta tanggal kedaluwarsa harus tercantum dengan jelas pada kemasan. Kemasan yang menarik tidak hanya berfungsi melindungi produk, tetapi juga menjadi strategi pemasaran yang efektif untuk menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara.

Pemerintah daerah juga telah menyiapkan wadah pemasaran melalui kehadiran NTT Mart, yang dirancang sebagai sarana promosi sekaligus distribusi bagi produk-produk kreatif lokal. “Melalui fasilitas ini, pelaku UMKM diharapkan dapat memasarkan produknya secara lebih profesional tanpa terkendala rantai distribusi yang panjang,” ujarnya.

Pada workshop di Lelogama, Mathias mengatakan, fokus pendampingan diberikan kepada para pengrajin kopi dan sambal khas daerah tersebut agar produk mereka mampu memenuhi standar kualitas yang dipersyaratkan oleh pasar modern yang menjadi mitra pemerintah. Selain itu, peserta juga dibekali dengan pengetahuan terkait manajemen operasional dan pengelolaan keuangan usaha.

Kemampuan melakukan pencatatan keuangan yang rapi serta penerapan prosedur operasional standar dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan usaha di tengah persaingan industri kreatif yang semakin dinamis. Ke depan, menurut Mathias Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT berencana memperluas program pelatihan standarisasi ini ke wilayah Flores dan Sumba.

Langkah tersebut dilakukan untuk memetakan potensi produk lokal baru yang dapat dikembangkan menjadi ikon kuliner daerah. Melalui sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat desa, diharapkan ekosistem ekonomi kreatif di NTT dapat tumbuh secara mandiri dan berkelanjutan serta memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Produk pangan lokal NTT kami harapkan tidak hanya menjadi konsumsi rumah tangga, tetapi juga berkembang menjadi oleh-oleh premium yang diminati wisatawan karena kualitasnya yang terjamin,” katanya menegaskan. (DB)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....