Mutiara Pagi: Kasih yang Memberi Harapan

  • 26 Feb 2026 18:12 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Kasih yang memberi harapan menjadi kebutuhan mendasar bagi setiap manusia yang hidup di tengah berbagai pergumulan dan ketidakpastian. Tekanan ekonomi, konflik keluarga, penyakit, hingga tantangan sosial dan kondisi alam yang berat, seperti yang kerap dialami masyarakat Nusa Tenggara Timur, sering membuat seseorang kehilangan arah dan pengharapan.

Dalam situasi tersebut, Firman Tuhan menghadirkan penghiburan dan kekuatan. Melalui Yohanes 3:16 ditegaskan bahwa karena kasih-Nya yang besar, Allah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya beroleh hidup yang kekal.

Kasih Allah bukan sekadar perasaan, melainkan tindakan nyata yang menyelamatkan dan memberikan masa depan penuh harapan. Pesan ini disampaikan oleh Apriliatus Laiskodat, S.Th., Penyuluh Agama Kristen pada Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTT dalam program Mutiara Pagi di RRI Pro 1 Kupang, Selasa, 17 Februari 2026.

Dalam renungannya bertajuk “Kasih yang Memberi Harapan”, ia menegaskan bahwa Tuhan dekat dengan orang yang patah hati dan memulihkan mereka yang remuk jiwanya. Apriliatus menjelaskan bahwa kasih Allah bersifat universal dan menjangkau semua orang tanpa pengecualian.

Ungkapan “Allah mengasihi dunia” menunjukkan bahwa kasih-Nya tidak dibatasi oleh suku, agama, status sosial, maupun latar belakang kehidupan. Tidak ada seorang pun yang terlalu jauh dari jangkauan kasih Tuhan, dan tidak ada kehidupan yang terlalu rusak untuk dipulihkan oleh anugerah-Nya.

Ia juga menekankan bahwa kasih sejati selalu memberi. Dalam Yohanes 3:16 dinyatakan bahwa Allah memberikan yang terbaik, yaitu Anak-Nya yang tunggal.

Pengorbanan Kristus di kayu salib menjadi bukti kasih terbesar dalam sejarah, karena melalui-Nya manusia ditebus dan diperdamaikan dengan Allah. Hal ini menegaskan bahwa setiap manusia sangat berharga di mata Tuhan.

Lebih lanjut, ia menguraikan bahwa kasih Allah tidak hanya menyelamatkan dari kebinasaan, tetapi juga memberikan hidup yang kekal dan masa depan yang pasti. Hidup kekal bukan hanya janji tentang surga, melainkan kehidupan yang dipenuhi damai sejahtera, pembaruan, dan hubungan yang dipulihkan dengan Tuhan sejak sekarang.

Pengharapan dalam Kristus, katanya, tidak tergoncangkan oleh keadaan dunia. Menutup pesannya, Apriliatus mengajak umat untuk kembali kepada sumber pengharapan sejati di tengah berbagai pergumulan hidup.

Ia mengingatkan bahwa di dalam Kristus selalu tersedia harapan baru, kekuatan baru, dan damai sejahtera yang melampaui segala keadaan. Karena itu, setiap orang percaya dipanggil untuk hidup dalam iman, penuh syukur, dan meneruskan kasih yang memberi harapan kepada sesama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....