Gerakan Tanam Padi Serentak Perkuat Swasembada Pangan NTT

  • 18 Feb 2026 06:25 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar Gerakan Tanam Padi Serentak sebagai langkah kolaboratif memperkuat swasembada pangan berkelanjutan. Kegiatan tersebut dipusatkan di Desa Manusak, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Senin, 16 Februari 2026.

Gerakan ini dihadiri Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena bersama Wakil Gubernur Johni Asadoma, Ketua DPRD NTT Emi Nomleni dan Bupati Kupang Yosef Lede. Turut hadir jajaran Kementerian Pertanian RI, TNI/Polri, para penyuluh pertanian, kelompok tani, serta Rektor Undana Prof. Dr. Ir. Jefri Semuel Bale, ST., M.Eng beserta mahasiswa.

Dalam sambutannya, Gubernur Melki Laka Lena menegaskan bahwa gerakan tanam serentak merupakan wujud komitmen bersama antara pemerintah daerah, petani, penyuluh, dan seluruh pemangku kepentingan dalam menjadikan sektor pertanian sebagai fondasi utama perekonomian masyarakat. “Gerakan tanam serentak ini menjadi momentum penting untuk mendorong semangat petani dalam meningkatkan produksi pangan bagi masyarakat. Hari ini di bawah langit Desa Manusak Kabupaten Kupang kita menanam padi secara serentak untuk mendukung swasembada berkelanjutan di Provinsi NTT dan Republik Indonesia,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya memuliakan peran petani sebagai pahlawan pangan. Menurutnya, petani memiliki kontribusi langsung terhadap keberlangsungan hidup masyarakat karena dari merekalah kebutuhan pangan terpenuhi.

Gubernur turut memaparkan capaian produksi gabah kering giling (GKG) NTT tahun 2025 yang hampir menembus 1 juta ton, tepatnya 968.324 ton. Angka tersebut meningkat 260.532 ton atau 36,81 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Produksi beras tahun 2025 tercatat sebesar 567.178 ton, naik 152.602 ton atau 35,38 persen dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 414.576 ton. Peningkatan tersebut berdampak pada penyerapan beras oleh Perum Bulog di NTT sebanyak 6.056 ton.

Pada kesempatan itu, Gubernur juga menyampaikan apresiasi kepada Menteri Pertanian RI Amran Sulaiman atas dukungan terhadap pembangunan sektor pertanian di NTT. Ia menyebut bantuan alsintan, traktor, pompa air, bibit, dan pupuk diberikan secara maksimal guna mendukung peningkatan produksi.

Sementara itu, Wakil Gubernur Johni Asadoma mendorong diversifikasi komoditas pertanian, terutama di wilayah kering seperti Kabupaten Sabu Raijua. Ia menilai pengembangan sorgum dan jagung perlu dioptimalkan sebagai substitusi beras karena memiliki daya tahan tinggi terhadap kondisi lahan kering.

“Kita tidak harus terpaku pada beras, tetapi sorgum dan juga jagung harus dimanfaatkan. Lahan-lahan yang ada ini sebanyak mungkin kita tanami, sehingga ini akan menjadi substitusi dari pada beras,” katanya.

Bupati Kupang Yosef Lede menargetkan produksi padi di wilayahnya pada 2026 mencapai 100.000 ton, meningkat dari capaian tahun sebelumnya sebesar 87.000 ton. Untuk mendukung target tersebut, Pemkab Kupang menerapkan strategi mekanisasi pertanian melalui sistem brigade alat dan mesin pertanian (alsintan), program cetak sawah rakyat, optimalisasi lahan tadah hujan, serta rencana pembentukan BUMD Agrobisnis guna menjaga stabilitas harga hasil panen petani.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT Joaz Bily Oemboe Wanda melaporkan bahwa pada 2026 Pemprov NTT menargetkan peningkatan luas tanam padi sebesar 7,90 persen menjadi 273.800 hektare dari 253.700 hektare pada 2025. Target produksi padi ditetapkan sebesar 1.186.456 ton GKG dan produksi beras 694.944 ton, guna memenuhi kebutuhan beras NTT yang rata-rata mencapai 650.000 ton per tahun.

Ia juga menyampaikan bahwa NTT meraih Pin Penghargaan Swasembada Pangan Nasional dari Kementerian Pertanian RI pada Januari 2026, bersama empat provinsi lainnya yakni Jawa Timur, Jawa Barat, Banten, dan Papua Selatan, atas peningkatan signifikan produksi padi. Gerakan Tanam Padi Serentak ini diharapkan menjadi langkah strategis dan berkelanjutan dalam memperkuat kemandirian pangan daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di NTT. (rls/DW)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....