Timbu, Kudapan Khas Dompu Yang Bersertifikat Warisan Budaya Tak Benda

  • 17 Apr 2024 15:43 WIB
  •  Mataram

KBRN, Dompu : Hari jadi Dompu ke 209, tahun ini menjadi hari yang sangat istimewa bagi daerah ber juluk “Nggahi Rawi Pahu” ini. Bagaimana tidak, setelah 209 tahun dua warisan budaya Dompu, yakni Muna Pa’a dan Timbu, ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Timbu atau lemamg, merupakan kudapan khas Domou, yang memiliki cita rasa khusus. Meski mirip dengan lemang, namun tidak aka nada yang menyamai cita rasa Timbu. Timbu Dompu, memiliki rasa yang gurih, pulen dan sedikit kenyal.

Sentra penjualan Timbu di Pasar Induk Dompu.
(foto Dok RRI Mataram/Mujtahidin)

Kudapan ini, awalnya digunakan sebagai kudapan di hari raya. Ada beberapa daerah, seperti di Kelurahan Kandai Dua, setiap mejelang lebaran, warga secara bersama-sama membuat dan membakar Timbu. Namun kini, kudapan ini, tidak hanya dijumpai menjelang lebaran, namun setiap hari bisa menikmatinya. Jika berkunjung ke Dompu anda akan menjumpai para penjual Timbu dan Tape Ketan di pasar Dompu pada sore hingga malam hari.

Sei, pembuat Timbu asal Kelurahan Bada, kecamatan Dompu, mengisahkan, pada masa lalu, pembuat Timbu tersebar hampir di seluruh wilayah Dompu. Namun saat ini, pembuat Timbu semakin berkurang. Kudapan, kata Sei, terbuat dari beras ketan yang dimasak dalam seruas bambu, setelah sebelumnya digulung dengan selembar daun pisang.

“Gulungan daun bambu berisi tepung beras dicampur santan kelapa ini kemudian dimasukkan ke dalam seruas bambu lalu dibakar sampai matang,” katanya, Rabu (17/4/2024).

Timbu lebih nikmat disantap hangat-hangat. Cara mengonsumsi Timbu memang berbeda-beda dari daerah ke daerah. Khusus di Dompu, Timbu lebih nikmat disantap dengan tape ketan. Diperlukan waktu sekitar dua sampai dua setengah jam untuk memasak beras ketan dalam bambu itu dengan api yang sedang, sebelum dibakar dengan tungku khusus yang terbuat dari besi atau kayu yang keras.

Sei menjelaskan, untuk membuat kudapan khas Dompu ini, pertama–pertama menyediakan beras ketan yang sudah direndam selam lima sampai enam jam dengan menggunakan air bersih, setelah beras direndam, kemudian dikeringkan hingga airnya terkuras habis. Setelah itu, beras yang sudah kering tersebut siap dimasukkan kedalam potongan bambu. Sebelum beras dimasukkan kedalam bambu, harus dipastikan bambu sudah tercuci bersih dengan air bersih.

“Barulah beras dimasukkan kedalam bambu tua yang berukuran sedang,” katanya.

Membakar Timbu.
(Foto Dok RRI Mataram/Mujtahidin)

Sebelum memasukkan beras, bambu tersebut dilapisi dengan daun pisang muda yang sudah bersih. Proses terakhir adalah dengan memasukkan santan dengan campuran garam secukupnya. Proses memasak Timbu tersebut dilakukan dengan lebih dahulu menyiapkan tungku yang berbentuk panjang segi empat dengan ukuran sesuai dengan kebutuhan. Memasak Timbu tidak seperti membakar ubi kedalam bara api yang sedang berkobar. Cukup dengan menyangai dengan api yang sedang.

“Selama pembakaran diperlukan beberapa tahap untuk mengalih atau memutar bambu tersebut dengan tujuan supaya beras ketan masak dengan sempurna dengan waktu lebih kurang dua jam,” jelasnya.

Namun sayangnya, kudapan yang sudah memiliki sertifikat WBTB ini, haanya mampu bertahan tiga hari. Jika lebih dari 3 hari, maka akan mengeluarkan bau yang tidak sedap yang timbul akibat aroma santan dan dan gula yang basi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....