Menelusuri Tantangan dan Potensi Pangan Lokal Nusantara
- 19 Des 2025 16:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Ahli Gastronomi dan Antropolog Pangan, Repa Kustipia, menilai tidak ada reformasi pangan di masa lalu. Hal itu ia sampaikan dalam acara 'Perspektif: Melacak Jejak Pangan Nusantara' yang digelar di Menara Kompas, Kamis (18/12/2025).
Menurut Repa, banyak komoditas lokal tidak tumbuh alami karena dipaksakan berhasil atau hanya bergantung pada kebijakan sementara. Kondisi tersebut menyebabkan kedaulatan pangan berbasis lokal tidak pernah benar-benar kuat.
"Tantangan utama saat ini adalah mengembalikan kebanggaan generasi muda terhadap pangan lokal. Perubahan cara pandang budaya ikut memengaruhi hubungan masyarakat dengan makanan," ujar Repa Kustipia dalam acara Perspektik Melacak Kejak Pangan Nusantara, Menara Kompas, Kamis (18/12/2025).
Salah satunya terlihat dari berakhirnya pengaruh era posmodernisme dalam memaknai pangan. Repa mencontohkan pergeseran makanan dan minuman tradisional menjadi komoditas wisata.
Untuk menarik minat Gen Z, ia mendorong pendekatan futuristik dalam pengembangan pangan lokal. Menurut Repa, Gen Z hanya belum terbiasa dengan makanan yang berada di alam.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Dwinita Wikan Utami juga turut memberikan pandangan berbeda. Kekayaan pangan lokal Indonesia dinilai sangat melimpah, namun belum dimanfaatkan secara optimal dalam sistem pangan nasional dan industri.
"Sebenarnya Indonesia memiliki beragam sumber karbohidrat lokal yang tersebar dari Sumatra hingga wilayah timur. Ada berupa serealia, kacang-kacangan, umbi-umbian, serta sayur dan buah hortikultura," ujar Dwinita dalam acara yang sama.
Menurut Dwinita, padi berpigmen, hanjeli, sorgum, millet, talas, ubi jalar, ubi kayu berpotensi menjadi alternatif pengganti terigu. Ia menambahkan, sorgum dan sagu dapat dikembangkan sebagai substitusi bahan pangan impor.
BRIN juga meneliti jagung lokal, buah-buahan seperti pisang, pepaya, dan sukun yang kaya beta karoten dan vitamin C. Dwinita menambahkan, BRIN tengah meneliti potensi tanaman hias dan tanaman lokal yang mengandung senyawa bernilai tinggi, seperti squalene.
Dalam diskusi tersebut, Akademisi dan Pakar Entomologi, Dadan Hindayana juga mengatakan potensi serangga sebagai sumber pangan alternatif bergizi tinggi dan ramah lingkungan. Ia menyebut belalang, ulat sagu, lebah, dan jangkrik telah lama dikonsumsi di sejumlah daerah di Indonesia.
"Serangga tertentu sangat bersih dari toksin, bahkan lebah menjadi indikator lingkungan sehat karena tidak hidup diwilayah tercemar pestisida. Ulat sagu dinilai aman dikonsumsi karena hanya memakan batang sagu tanpa residu kimia," ujar Dadan Hindayana.
Belalang, kata dia, dapat diolah secara sederhana seperti digoreng, selama berasal dari jenis yang umum. "Serangga memiliki kandungan gizi tinggi setara protein hewani, dan produk olahannya seperti cricket chips," ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....