Mengenal Tiwul, Makanan 'Survival' Masyarakat Indonesia saat Penjajahan Jepang

  • 07 Agt 2026 19:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Tiwul adalah makanan tradisional yang umumnya dikenal sebagai jajanan pasar yang disajikan dengan kelapa parut dan taburan gula merah manis.
  • Tiwul memiliki peran historis penting sebagai sumber pangan alternatif bagi masyarakat Indonesia pada masa ketika ketersediaan beras terbatas atau sulit diperoleh.
  • Tiwul merupakan bagian dari diversifikasi pangan nusantara yang saat ini sedang mengalami tren revitalisasi di media sosial, khususnya TikTok.

RRI.CO.ID, Jakarta - Banyak orang mengenal tiwul sebagai jajanan pasar yang disajikan bersama kelapa parut dan taburan gula merah manis. Di balik rasanya yang khas, tiwul pernah berperan penting sebagai sumber pangan bagi masyarakat ketika beras sulit diperoleh.

Tiwul merupakan makanan tradisional yang dibuat dari gaplek, yaitu singkong kering yang ditumbuk halus. Setelah dicampur sedikit air, adonan tersebut dikukus hingga matang dan siap disajikan sebagai makanan pokok maupun camilan.

Tiwul dikenal luas sebagai makanan khas masyarakat di wilayah selatan Pulau Jawa, terutama Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Tradisi mengonsumsi tiwul juga berkembang di sejumlah daerah lain, seperti Wonogiri dan daerah Jawa Tengah lainnya.

Pada masa lalu, tiwul dikonsumsi layaknya nasi dengan lauk sederhana seperti sayuran, tempe, dan sambal. Penyajiannya berbeda dengan sekarang karena lebih mengutamakan fungsi sebagai sumber energi dibandingkan makanan penutup bercita rasa manis.

Pada masa pendudukan Jepang 1942–1945, distribusi beras terganggu akibat perang dan kebijakan pengerahan hasil pangan. Kondisi itu membuat masyarakat memanfaatkan singkong yang lebih mudah diperoleh sebagai bahan baku tiwul.

Di sejumlah daerah, terutama wilayah selatan Jawa, tiwul kembali banyak dikonsumsi ketika harga beras meningkat pada era 1960-an. Banyak keluarga berpenghasilan rendah mengandalkan tiwul agar kebutuhan pangan tetap terpenuhi meskipun kondisi ekonomi kurang baik.

Bagi masyarakat Gunungkidul, tiwul bukan sekadar makanan pengganti nasi, melainkan bagian dari identitas budaya yang diwariskan turun-temurun. Wilayah yang didominasi lahan kering membuat singkong lebih mudah dibudidayakan dibandingkan padi.

Kemudahan menanam singkong menjadikan tiwul sebagai simbol ketahanan pangan masyarakat pedesaan menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Dari hasil kebun sederhana, warga mampu menciptakan makanan yang mengenyangkan, tahan disimpan, dan mudah diolah kapan saja.

Kini tiwul lebih sering disajikan sebagai kuliner tradisional dan oleh-oleh khas daerah. Meski fungsinya berubah, tiwul tetap menjadi pengingat ketahanan masyarakat menghadapi masa-masa sulit. (Shafa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....