Penutupan Perdagangan, Rupiah Lanjutkan Penguatan terhadap Dolar AS

  • 11 Feb 2026 20:32 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar dalam penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup naik 0,15 persen atau 25 poin menjadi Rp 16.786 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah menguat karena dolar AS masih cenderung melemah karena data ekonomi AS yang di bawah perkiraan. Antara lain data penjualan ritel di AS yang mengindikasikan pengeluaran konsumen sedang melemah.

"Pengeluaran konsumen di AS mendingin di tengah inflasi yang tinggi dan tekanan pada pasar tenaga kerja," kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Rabu, 11 Februari 2026.

Baca Juga:

Dolar Tertekan, Rupiah Berbalik Menguat

BI Perkirakan Penjualan Eceran Januari 2026 Meningkat

Menurutnya, berlanjutnya pelemahan pengeluaran konsumen membuat prospek perekonomian ikut melemah. "Prospek ekonomi yang lebih lemah dapat mendorong the Fed memangkas suku bunga untuk menopang pertumbuhan," ujarnya.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS, tambah Ibrahim, sudah  turun karena anggapan tersebut. Sehingga dolar AS  kesulitan untuk pulih dari kerugian besar yang terjadi di hari Senin.

Pelaku pasar juga masih mencermati kelanjutan negosiasi antara AS dan Iran setelah pertemuan di Oman. Alih-alih menuju kesepakatan, Trump malah mengatakan sedang mempertimbangkan untuk mengirim kapal induk kedua ke Timur Tengah.  Situasi yang membuat ketidakpastian masih tinggi.

Di dalam negeri, pelaku pasar mencermati stimulus ekonomi yang diberikan pemerintah selama periode Idulfitri. Stimulus berupa diskon transportasi, work from anywhere (WFA), dan bantuan pangan. 

"Kebijakan ini untuk meringankan beban ekonomi masyarakat dan memastikan kelanacaran serta kenyamanan dalam menyambut Idulfitri," ujar Ibrahim. Selain itu, pemerintah juga memprioritaskan aspek keselamatan saat mudik lebaran. 

Stimulus ekonomi ini dan bantuan pangan diharapkan dapat mendorong daya beli masyarakat. Sehingga dapat memacu pertumbuhan ekonomi di triwulan I 2026.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....