Timur Tengah Membara Bakal Mengguncang Bursa Saham Global
- 23 Jun 2025 08:22 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Para investor di bursa saham global, termasuk Indonesia diperkirakan akan melakukan aksi jual besar-besaran. Aksi jual saham dipicu perkembangan situasi di Timur Tengah yang memanas setelah secara sepihak Amerika Serikat menyerang Iran.
"Ketegangan di Timur Tengah meningkat secara dramatis setelah AS menyerang fasilitas nuklir utama Iran pada akhir pekan lalu. Situasi saat ini sangat tidak pasti dan penuh volatilitas, dengan risiko nyata terjadinya konflik regional yang lebih luas," kata Analis Pasar Modal dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, Senin (23/6/2025).
Baca Juga: Akhir Pekan, IHSG Berakhir di Zona Merah
Baca Juga: Sharia Investment Week Tambah 666 Investor Saham Baru
Konflik kemungkinan akan menemui jalan buntu. Iran sudah merespons akan melakukan pembalasan asimetris. Termasuk potensi serangan terhadap pangkalan AS, penutupan Selat Hormuz, serta mobilisasi kekuatan proksi regional.
Risiko salah perhitungan dan eskalasi yang tidak disengaja sangat tinggi. Langkah selanjutnya dari Iran, AS, serta Israel akan sangat menentukan apakah krisis akan semakin dalam atau menuju jalur de-eskalasi.
"Pada awal pekan ini, kami memperkirakan akan terjadi aksi jual besar-besaran di pasar saham global. Dimulai dari pasar Asia, termasuk Indonesia," ucap Rully.
Sejak eskalasi konflik Iran-Israel, IHSG telah turun sebesar 3,6 persen. Dalam tiga hari terakhir saja, terjadi arus keluar dana asing sebesar Rp4,6 triliun dari pasar saham Indonesia.
Menurut Rully, pasar saham harus berhati-hati terhadap potensi berlanjutnya aksi jual asing dan meningkatnya permintaan aset safe haven. "Hal ini dapat menekan saham-saham berkapitalisasi besar seperti BMRI, BBRI, ASII, dan TLKM," ujarnya.
Dampak paling nyata dan langsung juga diperkirakan terjadi pada harga minyak, yang kemungkinan akan melonjak tajam. Kenaikan harga minyak dapat menghambat rencana bank sentral untuk menurunkan suku bunga.
"Jika inflasi yang dipicu oleh energi berlanjut, pemangkasan suku bunga bisa tertunda hingga akhir 2025 atau awal 2026. Sehingga pasar keuangan tetap berada dalam kondisi volatil dan penuh ketidakpastian," kata Rully menutup analisisnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....