Penguatan Terus Berlanjut, Rupiah Dibuka Naik ke Rp17.775 per Dolar AS

  • 15 Jun 2026 09:34 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Ekspektasi perdamaian AS-Iran memicu sentimen risk-on pelaku pasar. Apalagi terjadi penurunan pada harga minyak mentah dunia
  • Rupiah dibuka naik 0,48 persen atau 85 poin. Sehingga posisi rupiah menguat ke level Rp17.775 per dolar AS
  • Sedangkan indeks dolar AS hari ini bergerak di kisaran 99,75, menurun tipis dibandingkan hari sebelumnya

RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS dalam pembukaan perdagangan hari ini. Pada akhir pekan kemarin, rupiah ditutup naik 0,71 persen atau 128 poin menjadi Rp17.860 per dolar AS.

Pantauan di Bloomberg, pada pukul 09.10 WIB, rupiah dibuka naik 0,48 persen atau 85 poin. Sehingga posisi rupiah menguat ke level Rp17.775 per dolar AS.

"Rupiah berpotensi kembali menguat terhadap dolar AS hari ini. Di tengah meningkatnya harapan perdamaian di timur tengah antara AS dan Iran," kata Analis Pasar Uang dari Doo Financial Future, Lukman Leong, Senin 15 Juni 2026.

Ekspektasi perdamaian tersebut memicu sentimen risk-on pelaku pasar. Apalagi terjadi penurunan pada harga minyak mentah dunia.

"Pernyataan AS dan Pakistan menyebutkan bahwa kesepakatan AS- Iran telah tercapai. Meski belum dikonfirmasikan pihak Iran," ucap Lukman.

Di dalam negeri, nilai tukar rupiah dibayangi oleh aksi lanjutan para mahasiswa. Menurtnya, aksi mahasiswa apabila anarkis dan berkelanjutan bisa membenbani rupiah.

Lukman memperkirakan rupiahhar ini akan begerak di kisaran Rp17.700-Rp17.800 per dolar AS. Sedangkan indeks dolar AS hari ini bergerak di kisaran 99,75, menurun tipis dibandingkan hari sebelumnya.

Sementara itu, Analis Pasar Uang Jessica Tasijawa mencermati sentimen positif pasar akan harapan perdamaian AS-Iran. "Perkembangan ini akan disambut positif karena mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dan premi risiko geopolitik," ujar Jessica dari Mirae Asset Sekuritas.

Menurutnya, harga minyak Brent dan WTI telah turun menjadi masing-masing USD83,8 per barel dan USD80,8 per barel. "Sehingga berpotensi menekan risiko inflasi global dan mengurangi tekanan fiskal bagi negara net importir minyak, termasuk Indonesia," ucap Jessica.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....