Akhir Pekan, IHSG Berakhir di Zona Merah
- 20 Jun 2025 20:13 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Perdagangan saham yang lesu sepanjang hari ini, membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun ke zona merah. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG turun 0,88 persen atau 61 poin ke level 6.907.
Mayoritas saham, sebanyak 404 saham harga turun, 310 saham stagnan dan 246 saham harganya naik. “Saham-saham sektor bahan baku, energi dan finansial turun paling dalam, dan menjadi penekan IHSG hari ini,” kata Tim Analis Phillip Sekuritas Indonesia, Jumat (20/6/2025).
Baca Juga:
IHSG Anjlok Lagi di Awal Perdagangan
Rupiah Dibuka Naik di Tengah Kekhawatiran Pasar
Saham sektor bahan baku tercatat turun 10,87 poin, saham sektor energi turun 5,35 poin. Sedangkan saham sektor finansial turun 4,11 poin.
Volume saham yang diperdagangkan hari ini sebanyak 35,04 miliar lembar saham, dengan frekuensi perdangan 1.185.000 kali transaksi. Total nilai perdagangan sebesar Rp22,68 triliun dan kapitalisasi pasar hingga akhir pekan ini sebesar Rp12.099 triliun.
| Baca juga: IHSG Diprakirakan Sideways di Akhir Pekan |
Menurut analisis Tim Phillip Sekuritas, kekhawatiran akan eskalasi konflik geopolitik masih mendominasi sentimen pasar. Pengaruh lainnya adalah rilis data ekonomi sejumlah negara di kawasan Asia Pasifik.
“Sehingga bursa saham di kawasan Asia ditutup beragam, dengan kecenderungan menguat. Karena kekhawatiran pasar akan campur tangan AS dalam perang Israel-Iran untuk sementara mereda,” ujar Tim Phillip Sekuritas.
Gedung Putih mengatakan, Presiden Trump masih mempertimbangkan apakah akan mendukung militer Israel. Keputusannya baru akan diambil dua minggu ke depan.
Di Tiongkok, People Bank of China (PBOC) sesuai ekspektasi, mempertahankan suku bunga pinjaman utama. Pemangkasan dilakukan untuk meredam dampak kebijakan tarif perdagangan baru Amerika Serikat.
Di Jepang, laju inflasi pada bulan Mei menurun menjadi 3,5 persen secara tahunan, terendah sejak November 2024. Sedangkan inflasi inti naik menjadi 3,7 persen dari 3,5 persen di bulan April.
“Dengan kenaikan inflasi inti, para investor melihat tidak ada prospek kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan hingga Desember. Itu pun dengan probabilitas hanya 50 persen,” kata Tim Phillip Sekuritas Indonesia menutup analisisnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....