Data Ketenagakerjaan AS Melemah, Hari Ini Rupiah Dibuka Menguat

  • 03 Jul 2026 10:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Berdasarkan data Bloomberg, rupiah naik 0,21 persen atau 37 poin menjadi Rp17.958 per dolar AS
  • Rupiah menguat karena dolar AS melemah ke 100,77 dibandingkan hari Kamis kemarin di level 101
  • Dolar AS melemah setelah rilis data tenaga kerja non-pertanian di Amerika Serikat. Data Non-Farm Payrolls (NFP) lebih lemah dari perkiraan pasar

RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah terpantau menguat terhadap dolar AS dalam pembukaan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah naik 0,21 persen atau 37 poin menjadi Rp17.958 per dolar AS.

Pada penutupan perdagangan Jumat kemarin, nilai tukar rupiah turun 0,24 persen ke posisi Rp17.995 per dolar AS. "Hari ini rupiah berpotensi berbalik menguat terhadap dolar AS," kata Analis Pasar Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, Jumat, 3 Juli 2026.

Rupiah menguat karena dolar AS melemah ke 100,77 dibandingkan hari Kamis kemarin di level 101. Dolar AS melemah setelah rilis data tenaga kerja non-pertanian di Amerika Serikat.

Data Non-Farm Payrolls (NFP) lebih lemah dari perkiraan pasar. Penyerapan tenaga kerja non-pertanian tercatat sebanyak 57 ribu pekerjaan di bulan Juni 2026.

Serapannya menurun dibandingkan bulan Mei 2026 sebanyak 129 ribu pekerjaan. Melemahnya data NFP, menimbulkan harapan the Fed akan menunda kenaikan suku bunganya.

Namun Lukman mengingatkan penguatan rupiah masih terbatas, karena sentimen investor terhadap pasar domestik masih belum pulih. "Nilai tukar rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp17.900-Rp18.000," ucap Lukman.

Sementara itu, dari dalam negeri, data ekonomi triwulan II 2026 melemah.Tren inflasi meningkat, keseimbangan eksternal memburuk, serta kontraksi manufaktur yang semakin dalam di level 46,9.

Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto menilai trend tersebut akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi. Apalagi Bank Indonesia menaikkan suku bunga dengan agresif.

"Kami melihat pengetatan kondisi keuangan akan menekan pertumbuhan ekonomi di triwulan II 2026 hingga triwulan I 2027. Selain itu, tekanan rupiah masih berlanjut, kembali mendekati level Rp18.000 per dolar AS," ujar Rully.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....