Tekanan Masih Tinggi, Rupiah Naik Tipis 9 Poin

  • 20 Jun 2025 19:39 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah bertahan terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat 0,06 persen atau 9 poin menjadi Rp16.396 per dolar AS.

Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan nilai tukar rupiah hari ini dipengaruhi oleh komentar the Fed. “Komentar the Fed yang agresif mengenai suku bunga membuat pasar terguncang,” ujarnya, Jumat (20/6/2025).

Baca Juga:

IHSG Anjlok Lagi di Awal Perdagangan

Rupiah Dibuka Naik di Tengah Kekhawatiran Pasar

Ketua The Fed Jerome Powell tetep tidak berkomitmen terhadap pemangkasan suku bunga di masa mendatang. Powell, tambah Ibrahim, bahkan memangkas prospek penurunan suku bunga untuk tahun 2026.

Di sisi lain, kegelisahan pasar agak mereda setelah Gedung Putih menyatakan Trump masih mempertimbangan serangan ke Iran. Paling tidak sampai dua minggu ke depan.

Tetapi pasar menunggu sikap Israel, apakah akan terus melakukan serangan ke Iran. Sementara Iran, masih meluncurkan misil-misilnya ke sejumlah wilayah pendudukan Israel.

“Tensi geopolitik antara Israel-Iran dan keterlibatan AS dalam konflik tersebut, memicu gejolak perekonomian global. Imbal hasil obligasi AS membuat pasar khawatir akan ketidakseimbangan fiskal Negeri Paman Sam itu,” ujar Ibrahim

Di dalam negeri, secara khusus Ibrahim menelisik dampak konflik geopolitik di Timur Tengah pada pasar keuangan Indonesia. Menurutnya, Indonesia berada di pusaran ketidakpastian global yang kompleks.

“Pergeseran struktural ekonomi dunia, menuntut ketahanan domestik yang kuat dan respons kebijakan yang adaptif . Termasuk kordinasi yang solid antara lembaga fiskal, moneter dan sektor riil,” ucapnya.

Ketika negara-megara maju mengalami tekanan fiskal dan moneter, negara-negara berkembang seperti Indonesia akan terkena dampaknya. Imbasnya akan terasa ke pelemahan nilai tukar, arus keluar modal asing dan kenaikan beban bunga utang luar negeri.

Untuk mengantisipasi itu semua, Ibrahim menilai pemerintah perlu menerapkan sejumlah kebijakan. Pertama, pemerintah harus mengelola risiko fiskal dengan lebih disipilin.

Kedua, memprioritaskan stabilisasi nilai tukar dan pasar keuangan. Ketiga, mendorong diversifikasi pembiayaan infrastruktur, dan keempat memperkuat ketahanan pangan dan energi agar tekanan global tidak mengganggu kestabilan sosial.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....