Investor Risk Off, Rupiah Ditutup Turun 61 Poin
- 13 Jun 2025 16:26 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan sore ini. Mengacu pada data Bloomberg, rupiah turun 0,38 persen atau 61 poin menjadi Rp16.303 per dolar AS.
"Serangan Israel ke Iran membuat para investor mengambil sikap menghindari risiko (risk off). Selain itu, Investor juga khawatir tekanan tarif lebih lanjut setelah Presiden Trump mengatakan akan segera menaikkan tarif otomotif," kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Jumat (13/6/2025).
Baca Juga:
Serangan Israel ke Iran, Jadi Sentimen Negatif Rupiah
Penjualan Eceran Bulan Mei 2025 Diperkirakan Melemah
Ketidakpastian Makin Tinggi, IHSG Masih Cari Peluang Menguat
Saat melakukan serangan, Israel juga membunyikan sirene di wilayahnya sebagai pertanda keadaan darurat. Sementara AS menyebut serangan Israel terhadap Iran sebagai "tindakan sepihak" dan mengatakan Washington tidak terlibat.
AS mendesak Teheran untuk tidak menargetkan kepentingan atau personel AS di wilayah tersebut. Sementara Iran sudah mengerahkan ratusan drone nya ke wilayah Israel.
Sementara itu, Trump kembali memicu kekhawatiran karena pernyataannya akan menaikkan tarif otomotif. Pernyataan itu mencuat setelah AS menyatakan perundingan dengan Tiongkok 'telah selesai' yang meredakan kekhawatiran pasar.
Di dalam negeri, Ibrahim mencermati hasil survei penjualan eceran yang dirilis BI hari ini. BI memperkirakan Indeks Penjualan Riil (IPR) bulan mencapai level 234,0 atau tumbuh 2,6 persen secara tahunan.
Secara bulanan, penjualan eceran pada Mei 2025 diprakirakan mencatat kontraksi sebesar 0,6 persen tidak sedalam kontraksi pada bulan sebelumnya. kelompok yang mengalami peningkatan penjualan adalah kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya serta barang budaya dan rekreasi.
Sementara dari sisi harga, tekanan inflasi tiga dan enam bulan yang akan datang diperkirakan akan menurun. Yaitu pada Juli dan Oktober 2025 yang tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH).
"IEH Juli dan Oktober 2025 masing-masing tercatat sebesar 141,9 dan 144,5. Indeksnya lebih rendah dibandingkan dengan periode sebelumnya yang masing-masing sebesar 146,4 dan 153,1," kata Ibrahim mengutip data Bank Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....