Rupiah Melemah Satu Poin pada Penutupan Perdagangan

  • 24 Apr 2025 16:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah melemah 0,01 persen (1 poin) terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis (24/4/2025). Sehingga saat ini nilai tukar rupiah menjadi Rp16.872 per dolar AS.

Hal ini disebabkan belum adanya katalis global maupun domestik yang dapat mendorong penguatan rupiah secara signifikan. Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyatakan salah satunya adalah perundingan AS dan Tiongkok yang masih belum jelas.

"Skenario tarif (Presiden AS) Donald Trump tidak begitu diminati Beijing untuk dilaksanakan," ujarnya. Menurut Ibrahim, Beijing hanya menunjukkan sedikit tanda-tanda akan mundur.

Sebelumnya Trump mengatakan dapat menurunkan tarif kepada Tiongkok di bawah 145 persen. Namun, Beijing tidak terlalu menanggapi pernyataan dari Gedung Putih itu.

Baca juga: Pelemahan Rupiah Berlanjut, Analis: Dipengaruhi Sentimen Domestik-Global

Baca juga: Menkeu Pastikan Stabilitas Sistem Keuangan Indonesia Terjaga

Pernyataan anggota pemerintahan Trump di sisi lain justru merusak optimisme terhadap de-eskalasi ketegangan antara AS dan Tiongkok. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, memperingatkan bahwa pembicaraan perdagangan dengan Beijing bisa jadi sulit.

"AS kemungkinan perlu memangkas tarif terlebih dahulu sebelum terlibat pembicaraan dengan Tiongkok," ucap Ibrahim mengutip pernyataan Bessent. Sehingga para pedagang tetap mewaspadai dampak tarif Trump, bahkan ketika muncul rencana pengecualian terhadap tarif otomotif.

Di dalam negeri, Ibrahim mencermati proyeksi IMF terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Lembaga donor internasional itu memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya sebesar 4,7 persen pada 2025 dan 2026.

"Ini lebih rendah dibandingkan proyeksi per Januari 2025 yaitu sebesar 5,1 persen," ujarnya. Proyeksi tersebut tertuang pada laporan World Economic Outlook edisi April 2025 yang menganalisa dampak penyesuaian tarif AS.

Angka proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak berbeda jauh dengan negara berkembang lainnya di Asia. Malaysia, misalnya, diperkirakan mengalami pertumbuhan 4,1 persen pada 2025 dan 3,8 persen pada 2026.

Vietnam diprediksi mengalami pertumbuhan sebesar 5,2 persen pada 2025 dan 4 persen pada 2026. Sedangkan Tiongkok diprediksi tumbuh sebesar 4 persen pada 2025 dan 2026.

Penerapan tarif resiprokal AS memang berdampak secara global. Pertumbuhan ekonomi global pada 2025 diprediksi turun menjadi 2,8 persen dari proyeksi 3,3 persen pada Januari 2025.

Bank Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 sedikit di bawah titik tengah kisaran 4,7-5,5 persen. "Pada triwulan I 2025 ekonomi Indonesia tergolong bagus, tetapi ke depan dinamika-dinamika yang terjadi perlu diantisipasi," kata Ibrahim.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....