IHSG Ditutup Menguat ke Level 6.409
- 07 Agt 2026 18:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IHSG ditutup menguat di level 6.409,65 setelah bergerak positif sepanjang perdagangan Jumat, 7 Agustus 2026.
- Penguatan IHSG terjadi di tengah sentimen global, termasuk konflik Timur Tengah dan penantian data tenaga kerja AS.
- Pelaku pasar juga mencermati cadangan devisa Indonesia serta pengumuman Gubernur Bank Indonesia definitif.
RRI.CO.ID, Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan Jumat, 7 Agustus 2026. Pada akhir sesi II, IHSG berada di level 6.409,65 atau naik sebesar 65,94 poin (1,04 persen).
Sejak awal perdagangan, IHSG bergerak di zona hijau setelah dibuka pada level 6.352,38. Angka penutupan ini sekaligus menjadi posisi tertinggi indeks pada perdagangan hari ini.
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak fluktuatif dan cenderung di area positif. Sebanyak 355 saham menguat, 235 saham melemah, dan 203 saham stagnan.
Nilai transaksi tercatat cukup tinggi mencapai Rp16,24 triliun. Sementara volume perdagangan mencapai 37,72 miliar lembar saham dengan frekuensi lebih dari 2,2 juta kali transaksi.
Tim Pilarmas Investindo Sekuritas menilai penguatan IHSG terjadi di tengah pergerakan bursa saham Asia yang bergerak beragam. Pelaku pasar masih mencermati berbagai sentimen global dan domestik yang memengaruhi arah perdagangan.
"Bursa regional Asia cenderung bergerak beragam jelang akhir pekan ini yang terbebani kondisi terakhir di Timur Tengah dan penantian rilis data pekerja Amerika Serikat (AS). Ketegangan yang kembali meningkat di Timur Tengah menghidupkan kembali kekhawatiran inflasi," kata Tim Pilarmas Investindo Sekuritas, Jumat, 7 Agustus 2026.
Menurut Pilarmas, kenaikan harga minyak dipicu laporan serangan Iran di Selat Hormuz. Kondisi tersebut memunculkan keraguan terhadap kepastian pembukaan kembali jalur pelayaran strategis itu.
Selain itu, pelaku pasar juga menunggu rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat. Data tersebut menjadi indikator arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Fed.
Pasar memperkirakan The Fed masih berpeluang menaikkan suku bunga pada September mendatang. Ekspektasi tersebut masih menjadi perhatian utama investor global.
Dari dalam negeri, cadangan devisa Indonesia pada Juli 2026 tercatat sebesar 145,3 miliar dolar AS. Posisi tersebut dinilai tetap mampu menjaga ketahanan sektor eksternal dan stabilitas sistem keuangan nasional.
Investor juga menanti pengumuman gubernur definitif Bank Indonesia yang dijadwalkan pemerintah pekan ini. Penetapan sosok tersebut dinilai menjadi katalis penting bagi pergerakan pasar keuangan domestik.
"Penunjukan figur yang memiliki kredibilitas tinggi dan dinilai mampu menjaga independensi BI berpotensi meningkatkan kepercayaan pasar. Sementara ketidakpastian yang berkepanjangan dapat mendorong sikap wait and see dari pelaku pasar,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....