Pelemahan Rupiah Berlanjut, Analis: Dipengaruhi Sentimen Domestik-Global
- 24 Apr 2025 10:16 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Nilai tukar masih melanjutkan pelemahannya terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan hari ini. Data Bloomberg menunjukkan rupiah berada di posisi Rp16.880 per dolar AS, turun 0,05 persen (8 poin).
Pada penutupan perdagangan Rabu kemarin rupiah juga melemah, di posisi Rp16.871 per dolar AS. Meski rupiah dibuka melemah hari ini, Analis Pasar Uang, Ariston Tjendra melihat peluang penguatan rupiah.
"Sentimen pasar terlihat lebih positif dibanding kemarin. Sebagian indeks saham Asia menguat, kemarin IHSG pun ditutup menguat," kata Ariston, Kamis (24/4/2025).
Baca Juga:
BI Tahan Suku Bunga, Rupiah Tetap Loyo
Pasar Tunggu Pengumuman BI, IHSG Dibuka Naik Tajam
BI: Uang Beredar Periode Ramadan-Idulfitri Rp160,3 Triliun
Menurutnya, sentimen positif ini dipicu pernyataan Trump yang mempertimbangkan menurunkan tarif barang dari Tiongko. Sikap Trump yang melunak, membuka kemungkinan semua negosiasi terkait tarif berjalan lancar.
"Rupiah bisa menguat terhadap dolar AS ke arah Rp16.800. Sedangkan potensi resisten di kisaran Rp16.880 per dolar AS," ucap Ariston.
Selain ada sentimen positif, Ariston mencermati isu yang dapat menjadi sentimen negatif bagi rupiah. Yakni prospek pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan menurun tahun ini.
"Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih rendah dari sebelumnya. Hal ini dapat memberikan sentimen negatif ke rupiah dan dapat menahan penguatan rupiah," ujar Ariston.
Dalam keterangan hasil Rapat Dewan Gubernur BI Selasa kemarin, Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025, menurut Perry, akan sedikit di bawah titik tengah antara 4,7 persen-5,5 persen.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melambat adalah imbas kebijakan tarif AS yang akan berpengaruh pada kinerja ekspor Indonesia. Kebijakan tarif AS juga akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi melambat dari perkiraan 3,2 persen menjadi 2,9 persen.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....