IHSG Diperkirakan Melemah Dipicu Ketegangan Perang Tarif AS-Tiongkok

  • 11 Apr 2025 11:23 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Meningkatnya tensi perang dagang AS dan Tiongkok, diperkirakan akan membuat IHSG kembali melemah hari ini. Pada pembukaan perdagangan hari ini Indeks Harga Saham Gabungan berada di zona merah di level 6.195.

Sementara saat penutupan perdagangan Kamis kemarin, IHSG naik siginifikan 4,79 persen (286 poin) ke level 6.254. "Tapi kenaikan IHSG kemarin masih disertai dengan net sell (jual bersih) oleh investor asing sebesar Rp632 miliar," kata Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, Jumat (11/4/2025).

Baca Juga: Mayoritas Harga Saham Naik, IHSG Menguat 4,79 Persen

Baca Juga: Trump Tunda Tarif Resiprokal, IHSG Melesat ke 6.200

Baca Juga: Rupiah Lanjutkan Penguatan Jadi Rp16.823 per Dolar AS

Saham yang paling banyak dijual asing, tambah Fann, masih didominasi saham perbankan. Yakni saham BMRI, BBNI, BBRI, BBCA, diikuti oleh saham TLKM.

"IHSG hari ini berpotensi melemah kembali seiring dengan menguatnya tensi perang dagang AS-Tiongkok. IHSG akan bergerak di rentang support 6.150-6.200 dan level resist di rentang 6.300-6.400," ujar Fanny.

Dalam analisisnya hari ini, Fanny mencatat kondisi bursa saham Amerika Serikat yang disebutnya 'jatuh parah'. Penyebabnya kekhawatiran investor akan dampak perang dagang, meski Trump telah mengumumkan penundaan sementara tarif impor untuk sejumlah negara.

Dow Jones Industrial Average turun 2,5 perse, S&P 500 melemah 3,46 persen dan Nasdaq Composite menurun 4,31 persen. "Saham teknologi besar mencatatkan penurunan signifikan, seperti saham Apple turun 4,2 persen, Tesla anjlok 7,3 persen, Nvidia terpangkas hampir 6 persen," ucap Fanny.

Di sisi lain, bursa saham di kawasan Asia kompak menguat pada Kamis kemarin. Kenaikan tertinggi terjadi pada Indeks Nikkei 225 yang melesat hingga 9 persen.

Topix naik 8,09 persen, Hang Seng menguat 2,06 persen, Taiex Taiwan melesat 9,25 persen, dan CSI 300 China naik 1,31%. Penguatan bursa Asia didorong oleh pembelian saham terbesar setelah Trump mengumumkan penangguhan tarif yang lebih tinggi selama 90 hari," kata Fanny menutup analisisnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....