IHSG Melejit 3,8 Persen, Ditopang Kenaikan Saham Perbankan

  • 26 Mar 2025 19:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Indeks Harga Saham Gabung (IHSG) kembali melejit dalam penutupan perdagangan hari ini. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan, IHSG naik signifikan 3,8 persen (236,74 poin) ke level 6.472.

“IHSG menguat disebabkan oleh kenaikan pada saham–saham perbankan, setelah mengumumkan besaran dividend yield nya. Besarannya lebih besar dari tingkat suku bunga Bank Indonesia,” kata Tim Pilarmas Investindo Sekuritas dalam analisisnya, Rabu (26/3/2025).

Dividend yield adalah besarnya nominal dividen per lembar saham dibagi harga saham per lembar. Tim Pilarmas juga menyebutkan, penguatan IHSG disertai mayoritas harga saham yang naik sebanyak 554 saham.

Selebihnya, 281 saham harganya stagnan dan 123 saham harganya turun. Saham sektor barang baku mengalami kenaikan terbesar 4,32 persen.

Baca Juga:

IHSG Diperkirakan Lanjutkan Penguatan

Rupiah Diperkirakan Masih Melemah Meski Dibuka Naik Tipis

Rupiah Naik Tipis Tinggalkan Level Rp16.600 per Dolar

“Sepanjang hari ini Indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan bergerak menguat. bergerak menguat Saham–saham yang mendominasi penguatan diantaranya SMGR, BBTN, BBNI, BMRI, AMRT,” ucap Tim Pilarmas.

Volume saham yang diperdagangkan sebanyak 30,38 miliar lembar saham, dengan frekuensi perdagangan 1,1 juta kali transaksi. Total nilai perdagangan sebesar Rp34,41 triliun dan kapitalisasi pasar menjadi Rp11.047 triliun.

Bursa saham di kawasan Asia, hari ini juga didominasi penguatan. Namun pelaku pasar masih menunggu kejelasan kebijakan tarif Trump pekan depan.

Sebelumnya, para investor melihat adanya harapan terkait fleksibilitas pungutan tarif Trump. Beberapa negara akan mendapat keringanan dan tidak semua pungutan dikenakan batas waktu 2 April.

Pada saat yang sama, Trump berencana mengenakan tarif sekunder sebesar 25 persen pada negara mana pun. Khususnya yang membeli minyak atau gas dari Venezuela.

“Di Jepang, Gubernur Bank Jepang Kazuo Ueda mengatakan capaian target inflasi belum memadai. Hal ini menandakan potensi perlambatan kenaikan suku bunga,” kata tim Pilarmas menutup analisisnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....