Rupiah Diperkirakan Masih Melemah Meski Dibuka Naik Tipis

  • 26 Mar 2025 10:32 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah dibuka naik tipis terhadap dolar AS dalam pembukaan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp16.602, menguat dibandingkan level hari Selasa kemarin Rp16.612 per dolar AS.

"Tekanan terhadap rupiah meningkat dalam dua pekan terakhir. Kemarin Rupiah sempat melemah ke level 16.653, yang merupakan level terendah sejak Juni 1998," kata Kepala Ekonom Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, Rabu (26/3/2025).

Baca Juga :

Dolar Sedang Naik, Rupiah Diperkirakan Masih Hadapi Tekanan

IHSG Kembali 'Hijau', Ditutup Naik 1,21 Persen

Triwulan I-2025, Kinerja IHSG Tertekan Derasnya Dana Keluar

Intervensi Bank Indonesia, tambah Rully, membuat rupiah kembali menguat pada level Rp16.595 per dolar AS. Pelemahan rupiah dari awal tahun hingga saat ini (year to date) tercatat sebesar 3,1 persen.

"Rupiah menjadi salah satu mata uang yang memiliki kinerja terburuk terhadap dolar AS di antara mata uang-mata uang lainnya. Rupiah hanya lebih baik dari Lira Turki, yang melemah 7,4 persen (year to date)," ujarnya.

Menurut Rully, mata uang Turki anjlok karena negara itu sedang mengalami ketidakstabilan politik dan ekonomi yang sangat tinggi. Kondisi yang menyebabkan menghilangnya kepercayaan investor.

"Pelemahan Rupiah dipengaruhi baik faktor global maupun faktor domestik. Indeks dolar mengalami rebound (penguatan kembali) dalam beberapa hari terakhir karena pelemahan mata uang euro dan yen Jepang," ucap Rully.

Dirinya melihat pergerakan rupiah ke depan masih akan sangat dinamis, dipengaruhi oleh prospek ekonomi AS yang diperkirakan akan melambat. Termasuk pengaruh kebijakan perdagangan Trump yang terus berubah-ubah.

Ketidakpastian global menyebabkan daya tarik investasi di emerging market menurun. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga beberapa negara lain di ASEAN seperti Malaysia dan Thailand.

"Dari dalam negeri, optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia masih rendah. Salah satu penyebabnya, kebijakan moneter dan fiskal yang belum sepenuhnya akomodatif," kata Rully.

Sementara prospek ekonomi global juga memburuk akibat kebijakan perdagangan Trump. Situasi yang membuat sentimen di pasar uang juga jadi negatif.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....