Rupiah Makin Anjlok, Tembus Rp16.600 per Dolar AS

  • 25 Mar 2025 17:28 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah sudah menyentuh Rp16.611 per dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (25/3/2025). Menurut Bloomberg, rupiah turun 0,27 persen atau 44 poin dibandingkan pada penutupan perdagangan sehari sebelumnya.

Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyatakan faktor global dan domestik membuat para pelaku pasar memberikan sentimen negatif. Ini ditambah indeks dolar yang terus menguat sehingga nilai tukar rupiah makin melemah terhadap dolar AS.

"Dari sisi eksternal, kondisi geopolitik masih terus memanas," ujarnya. Apalagi setelah AS mengancam Iran dan mengultimatum perang atau menghentikan reaktor nuklirnya.

Baca juga: Dolar Sedang Naik, Rupiah Diperkirakan Masih Hadapi Tekanan

Sementara itu, Israel melanjutkan genosida tahap kedua di Jalur Gaza. Pada saat bersamaan terjadi aksi unjuk rasa di kalangan pemukim asal Israel yang memprotes pemerintahnya sendiri.

Di Yaman, kelompok Houthi terus menyerang kapal-kapal asing yang berlayar di Laut Hitam. Serangan Houthi yang masif membuat hampir 80 persen kapal-kapal itu berbelok melalui Laut Afrika.

"Sehingga biaya transportasi naik tinggi serta mendongkrak harga-harga komoditas lainnya," ujar Ibrahim. Kondisi tersebut jelas akan memicu naiknya inflasi.

Ini belum ditambah kebijakan tarif impor yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump. Rencananya tarif impor mobil akan berlaku mulai 2 April 2025, dengan pengecualian pada sejumlah negara tertentu.

Baca juga: Triwulan I-2025, Kinerja IHSG Tertekan Derasnya Dana Keluar

Dari dalam negeri, berbagai isu yang bergulir sejak awal tahun memberikan sentimen negatif terutama kepada pasar modal. Di antaranya masalah Danantara serta ucapan Presiden Prabowo Subianto bahwa investasi saham ibarat judi bagi rakyat kecil.

"Ini membuat frustasi para investor sehingga banyak dana asing keluar dari pasar modal Indonesia," ujar Ibrahim. Menurut dia, terbentuknya kepengurusan Danantara ternyata tidak menghentikan aliran keluar modal asing.

Ibrahim mengatakan pelaku pasar menilai pemerintah terlalu ikut campur dalam mekanisme pasar modal. Apalagi setelah muncul wacana aparat kepolisian atau Bareskrim akan ikut mengawasi pasar modal.

"Intervensi pemerintah terhadap pasar modal dianggap tidak aman bagi para investor, inilah yang membuat rupiah terus melemah," ujarnya. Menurut dia, investor menginginkan pemerintah dan lembaga-lembaga tertentu hanya melakukan pengawasan saja.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....