Triwulan I-2025, Kinerja IHSG Tertekan Derasnya Dana Keluar

  • 25 Mar 2025 15:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Kinerja pasar modal Indonesia kurang menggembirakan sepanjang triwulan I-2025. Hal itu tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mengalami penurunan sebesar 11,6 persen.

"Penurunannya menjadi salah satu yang terendah dari bursa-bursa yang kita pantau. Yang kapitalisasi pasarnya di atas 100 miliar dolar AS," kata Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik dalam kegiatan Buka Puasa Bersama di Jakarta, Senin (24/3/2025).

Baca Juga: IHSG Dibuka Naik ke Zona Hijau Hari Ini

Baca Juga: Dolar Sedang Naik, Rupiah Diperkirakan Masih Hadapi Tekanan

Tetapi BEI tidak sendiri, karena bursa saham negara tetangga juga mengalami penurunan yang cukup dalam. Diantaranya, menurut Jeffrey, bursa saham Malaysia dan bursa saham Thailand.

"Penyebabnya, karena adanya capital outflow (aliran keluar modal asing) dari kawasan Asia Tenggara ke Amerika Serikat. Kami meyakini ini merupakan siklus yang biasa terjadi saat pasar berfluktuasi secara dinamis," ucap Jeffrey.

Menurutnya, aktivitas pasar dari sisi supply maupun demand, sebenarnya relatif stabil. Terbukti selama kuartal I-2025 sudah ada 10 perusahaan yang listing di BEI.

Dari sisi demand juga terjadi peningkatan, jumlah investor bertambah lebih dari 850 ribu investor. Sehingga total jumlah investor pasar modal sekarang mencapai 15,7 juta investor.

"Ini artinya, masyarakat melihat masih ada peluang cukup besar untuk berinvestasi di pasar modal. Bagi investor pemula yang beli saham saat sedang diskon punya peluang meraup keuntungan lebih besar di kemudian hari," ucap Jeffrey.

Terkait penurunan IHSG yang cukup dalam di awal pekan ini, Jeffrey melihatnya karena pengaruh banyak faktor. Seperti pemangkasan suku bunga BI di bulan Januari kemarin, serta kebijakan tarif Presiden Trump pada lawan dagangnya di Eropa, Amerika dan Asia.

"Dalam kurun waktu tersebut, indeks saham secara konsisten mengalami tekanan yang besar. Modal asing yang keluar dari pasar saham mencapai Rp30 triliun, tapi mayoritas dana yang keluar itu terserap oleh investor domestik, khususnya investor ritel," ujar Jeffrey.

Saat ini investor ritel berkontribusi sekitar 44 persen dari total nilai transaksi harian di Bursa Efek Indonesia. "Akhir-akhir ini kita lihat IHSG sudah mulai rebound (berbalik menguat)," ucapnya.

Jeffrey optimis pasar modal Indonesia ke depan lebih baik lebih dan lebih kuat. Karena pasar modal Indonesia sudah terbukti mampu melewati berbagai krisis, mualknkrisis tahun '98, 2008, 2018 dan 2020 saat pandemi

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....