IHSG Diprakirakan Stagnan, Pasar Tunggu Hasil Rapat Dewan Gubernur BI
- 18 Jun 2026 08:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- "IHSG hari ini sideways (stagnan) cenderung melemah," kata Senior Analyst Retail Research BNI Sekuritas, Juido Hutabarat
- Sesuai ekspektasi, The Fed mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,5-3,75 persen.
- Bank Indonesia hari ini akan mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur BI terkait kebijakan suku bunga
RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan diprakirakan stagnan pada perdagangan Kamis 18 Juni 2026. Sehari sebelumnya, IHSG turun 0,55 persen ke level 6.220 pada penutupan sesi perdagangan.
Pelemahan IHSG tersebut disertai aliran keluar modal asing dengan net sell (jual bersih) senilai Rp328 miliar. “Melihat hal tersebut, kami memperkirakan IHSG akan sideways (stagnan), cenderung melemah,” kata Senior Analyst Retail Research BNI Sekuritas, Juido Hutabarat.
Menurut dia, IHSG diprakirakan bergerak pada rentang 6.130-6.200 untuk level support. Sedangkan level resistansi diproyeksikan bergerak pada rentang 6.250-6276.
Juido menambahkan pasar saham utama Amerika Serikat (AS) mencermati hasil rapat perdana The Fed di bawah kepemimpinan Kevin Warsh. Kebijakan moneter The Fed, lanjut dia, dinilai lebih hawkish (ketat) dari perkiraan.
“Sehingga imbal hasil obligasi pemerintah AS melonjak dan membuat pasar saham di sana terkoreksi,” ujarnya. Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,98 persen, S&P 500 terkoreksi 1,21 persen, dan Nasdaq Composite anjlok 1,34 persen.
Sesuai ekspektasi, The Fed mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,5-3,75 persen. Namun, perhatian investor tertuju pada proyeksi terbaru atau dot plot dari para pejabat bank sentral.
Hal tersebut mengindikasikan peluang kenaikan suku bunga pada tahun ini guna mengendalikan inflasi. “Proyeksi terbaru, median perkiraan suku bunga the Fed pada akhir 2026 naik menjadi 3,8 persen dari 3,4 persen pada Maret 2026,” ucap Juido.
Ini menunjukkan sikap sebagian anggota Federal Open Market Committee (FOMC) yang menilai pengetatan kebijakan moneter masih diperlukan. “Ketidakpastian semakin meningkat setelah Kevin Warsh memilih tidak menyerahkan proyeksi suku bunganya sendiri,” ujarnya.
Di kawasan Asia-Pasifik, pasar saham mayoritas justru menguat pada perdagangan Rabu 17 Juni 2026. Pasar saham Korea Selatan, Kospi, memimpin penguatan dengan kenaikan 1,6 persen.
Menurut Juido, sentimen pasar di Asia masih dipengaruhi perkembangan geopolitik. Ini ditambah dengan respons investor terhadap negosiasi terbaru antara AS dan Iran.
Di dalam negeri, pelaku pasar menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI). Para analis memprakirakan BI masih berpeluang menaikkan suku bunga karena prioritasnya adalah menstabilkan nilai tukar rupiah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....