Akhir Pekan, IHSG Konsolidasi dengan Risiko Melemah

  • 07 Feb 2025 10:12 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan konsolidasi hari ini. Setelah anjlok dua persen dalam penutupan perdagangan Kamis kemarin ke level 6.875,54.

"IHSG mencatat penurunan terbesar dalam lebih dari empat bulan belakangan ini. Level 6.875 merupakan level terendah sejak Juni tahun lalu," Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto dalam analisisnya, Jumat (7/2/2025).

Baca Juga :

IHSG Anjlok Dua Persen Dipicu Isu Perombakan Kabinet

Rupiah Jatuh Lagi akibat Tertekan Isu Perang Dagang

Sehingga IHSG hari ini diperkirakan akan konsolidasi dan akan bergerak di rentang 6.842 – 6.913. Sementara level support di 6.800.

Beberapa saham perbankan berkapitalisasi besar, kata Rully, mengalami penurunan tajam. Termasuk BMRI, BBRI, dan BBCA, yang masing-masing turun 7,7 persen 4,1 persen, dan 1,9 persen.

Saham unggulan lainnya di luar sektor perbankan juga melemah signifikan. ASII dan TLKM masing-masing turun 4 persen dan 2,3 persen.

Menurut Rully, pasar bereaksi negatif terhadap rilis laporan keuangan Bank Mandiri (BMRI) untuk triwulan IV-2024. Laporan keuangan menunjukkan penurunan tajam secara kuartalan sebesar 11 persen.

"Kondisi likuiditasnya juga semakin ketat, tercermin dalam rasio loan to deposit ratio (LDR) yang naik menjadi 98 persen. Kenaikannya cukup tinggi dibandingkan LDR pada triwulan IV-2023 sebesar 86 persen," ujar Rully.

Kondisi likuiditas yang ketat akan membatasi ruang pertumbuhan kredit ke depan. Kondisi tersebut akan mempengaruhi kinerja BMRI selanjutnya.

Mirae Asset Sekuritas Indonesia juga mencatat hingga 5 Februari 2025, investor asing mencatat aksi jual bersih sebesar Rp956 miliar. Selain itu, data PDB Indonesia yang dirilis kemarin menunjukkan pertumbuhan yang stabil tetapi masih lesu.

Pertumbuhan ekonomi melambat menjadi 5,03 persen pada 2024, dibandingkan tahun 2023 yang tumbuh 5,03 persen. Juga lebih rendah dari target pemerintah sebesar 5,2 persen

"Pemerintah menghadapi tantangan besar dalam mencapai target pertumbuhan yang sama tahun ini di tengah ketidakpastian global. Tantangan itu berupa perlambatan ekonomi Tiongkok, kebijakan perdagangan proteksionis AS, dan meningkatnya volatilitas rupiah," ucap Rully menutup analisisnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....