Rupiah Anjlok dalam Penutupan Perdagangan Akhir Pekan
- 17 Sep 2026 21:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terpantau turun 0,32 persen atau 57 poin menjadi Rp17.753 per dolar AS
- Selain keputusan the Fed menaikkan suku bunga di bulan September ini, perkembangan konflik di Timur Tengah menjadi penekan rupiah
- Pasar juga menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG) pada Rabu pekan depan.
RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah terus merosot hingga penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terpantau turun 0,32 persen atau 57 poin menjadi Rp17.753 per dolar AS.
Selain keputusan the Fed menaikkan suku bunga di bulan September ini, perkembangan konflik di Timur Tengah menjadi penekan rupiah. Meskipun ada sinyal penghentikan perang dari AS terhadap kelompok Houthi di Yaman.
“Reuters melaporkan bahwa AS dan kelompok Houthi Yaman akan mengadakan dialog selama akhir pekan,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Kamis, 17 September 2026. Presiden Trump juga lagi-lagi mengklaim bahwa Iran sedang mengupayakan kesepakatan damai, dan perang AS akan segera berakhir.
Meski faktanya, AS dan Iran masih berselisih terkait Selat Hormuz. Perselisihan yang menyebabkan terganggunya lalu lintas pasokan energi yang melewati Selat tersebut.
Di dalam negeri, pasar masih mencermati sosok Suahasil Nazara sebagai menteri keuangan yang baru. Suahasil menegaskan komitmennya untuk menjaga keuangan negara dan memastikan APBN menjadi instrumen yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi.
Pasar juga menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG) pada Rabu pekan depan. “Ruang bagi BI untuk kembali mengerek suku bunga acuan tampak semakin menyempit,” ucap Ibrahim.
Menurutnya, para analis melihat sinyalemen kuat bertahannya status quo kebijakan moneter. Langkah agresif BI sebelumnya menjadi alasan utama mengapa bank sentral tak perlu lagi tergesa-gesa memutar kemudi moneter.
“Manuver BI yang telah menaikkan suku bunga hingga 100 basis poin merupakan langkah pre-emptive yang sangat presii. Bahkan melampaui agresivitas bank sentral Amerika Serikat (The Fed),” ujar Ibrahim.
Saat ini, kata Ibrahim, fundamental makroekonomi yang perlahan menguat turut menjadi tameng bagi BI. Kondisi nilai tukar rupiah berangsur stabil, aliran modal asing kembali masuk ke pasar domestik, dan postur kebijakan fiskal lebih disiplin.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....