Pendekatan Neuro-Affirming Efektif Dorong Kesehatan Mental Anak Autis

  • 01 Apr 2026 08:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Memperingati Bulan Kesadaran Autisme Sedunia, percakapan tentang rasa aman di sekolah mulai mengalami pergeseran. Bagi banyak orang tua, sekolah yang aman sering kali diartikan sebagai lingkungan yang bebas dari perundungan.

Namun, bagi anak neurodivergent seperti anak dengan autisme, ADHD, atau disleksia, rasa aman tidak selalu sesederhana itu. Sejalan dengan terbitnya Permendikdasmen No. 6 Tahun 2026 tentang "Budaya Sekolah yang Aman dan Nyaman", Atelier of Minds, after-school care dan enrichment center inklusif di Jakarta Selatan, menilai bahwa rasa aman bagi anak neurodivergent perlu melampaui kebijakan antiperundungan dan bergerak menuju pendekatan neuro-affirming.

Tantangan yang mereka hadapi sering kali tidak terlihat secara langsung. Mulai dari kesulitan memahami situasi sosial hingga tekanan untuk terus menyesuaikan diri dengan lingkungan di sekitarnya.

"Saat ini, semakin banyak pihak menilai bahwa menciptakan lingkungan yang aman bagi anak neurodivergent membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Tidak hanya melindungi mereka dari perundungan, tetapi juga memahami cara mereka belajar, berinteraksi, dan berkembang," kata Occupational Therapist dan Lead Coach di Atelier of Minds, Ries Sansani, Rabu, 1 April 2026.

Menurut dia, ketika anak dipaksa ‘menyesuaikan diri’ melalui pendekatan disiplin yang kaku tanpa memahami kebutuhan sensori dan regulasinya, hal tersebut justru dapat meningkatkan stres

dan disregulasi.

Ries menyebut kebutuhan sensori yang terpenuhi dapat membentuk regulasi diri yang baik serta mengembangkan Functional Emotional Development Capacity, yaitu kapasitas perkembangan emosional yang memungkinkan anak merasa aman dan percaya ketika membangun hubungan dengan orang lain, serta secara bertahap mengembangkan kontrol emosi dan perilaku yang lebih adaptif.

Untuk memperkuat aplikasi dari pendekatan ini Atelier of Minds berkolaborasi dengan Agape Psychology, klinik psikologi berbasis di Singapura yang telah memiliki pengalaman lebih dari satu dekade dalam praktik pendidikan inklusif.

Clinical Director Agape Psychology Jeremy Ang menjelaskan, pendekatan neuro-affirming penting untuk mendukung kesehatan mental anak dalam jangka panjang.

"Tujuan kami adalah menerjemahkan praktik neuro-affirming yang telah kami kembangkan secara mendalam di Singapura ke dalam dunia pendidikan Indonesia," ujarnya.

Pendekatan ini bukan sekadar tentang menerapkan model asing, melainkan tentang bersama-sama membangun kerangka kerja yang berkelanjutan dan peka terhadap budaya. Sehingga, anak-anak Indonesia dapat berkembang secara baik dalam sisi akademis, sosial, dan emosional.

Kebutuhan terhadap layanan inklusif di Indonesia juga semakin mendesak. Berdasarkan data global WHO yang dirujuk Kementerian Kesehatan, diperkirakan 1 dari 100 anak memiliki Autism Spectrum Disorder (ASD). Dengan jumlah anak terdampak yang diperkirakan mencapai sekitar 2,4 juta anak di Indonesia, pentingnya pendidikan yang lebih inklusif pun semakin terasa.

Guna membantu sekolah menerjemahkan kebijakan menjadi praktik nyata, Ries Sansani membagikan tiga langkah sederhana yang dapat mulai diterapkan di sekolah:

  1. Mengutamakan keamanan sensorik
    Rasa aman tidak hanya berarti tidak adanya kekerasan, tetapi juga bebas dari tekanan sensorik. Sekolah dapat menyediakan ruang tenang atau memperbolehkan penggunaan
    headphone peredam suara bagi anak yang membutuhkan.
  2. Berpindah dari kepatuhan ke kolaborasi
    Alih alih langsung menghukum perilaku yang dianggap tidak biasa, guru dapat mencoba memahami apa yang ingin disampaikan anak melalui perilaku tersebut. Lingkungan belajar perlu menyesuaikan kebutuhan anak, bukan sebaliknya.
  3. Mengenalkan konsep keragaman cara berpikir kepada teman sebaya
    Perundungan sering berkurang ketika siswa memahami perbedaan. Anak dapat diajarkan bahwa cara kerja otak setiap orang berbeda. Ada yang seperti Windows, ada yang seperti Mac. Ketika siswa memahami hal ini, empati dapat tumbuh secara alami.

Bagi banyak orang tua di Indonesia, menemukan lingkungan yang benar-benar aman bagi anak sering menjadi perjalanan panjang. Wina Natalia, figur publik sekaligus ibu dari anak neurodivergent, menilai perubahan cara pandang ini sangat penting bagi keluarga.

"Sebagai orang tua, ketakutan terbesar bukan hanya anak di-bully, tetapi saat anak dipaksa mengubah dirinya agar bisa diterima. Ketika menemukan lingkungan yang menghargai neurodiversity, dampaknya sangat besar bagi keluarga. Kami tidak ingin anak hanya sekadar ‘menyesuaikan diri’, tetapi benar benar dilihat, didengar, dan dihargai," ujar Wina.

Sebagai bagian dari Bulan Kesadaran Autisme, Atelier of Minds bersama Agape Psychology juga akan mengadakan rangkaian workshop bagi orang tua dan pendidik. Program ini bertujuan membantu masyarakat bergerak dari sekadar pemahaman menuju penerimaan, sekaligus memberikan panduan praktis dalam menerapkan pendekatan neuro-affirming di rumah maupun di sekolah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....